memandang kelabu yang belagu
sendu bertandak merasuk dan merintih
khalayan semesta beria - ria
meruahkan harapan memudar
di msygul serta kelunya rana
selepasnya
adam langkahkan raga
lalu sukma berlomba melari
Monday, May 16, 2016
Monday, May 9, 2016
ah.
pernah tidak kalian menemukan sesuatu yang berhubungan denga masa lalu?
saya pernah.
entah darimana asalnya. mungkin teringat namanya. saya menegtik dua kata itu di google. kemudian terkejut karena ternyata dia memiliki blog. saya yakin itu miliknya.
cepat, saya membuka, membaca satu persatu sampai saya membaca sebuah judulyang membuat jatung saya berhenti berdetak.
dia menuliskan saya dalam blognya. kalimat pertama membuat saya menahan nafasdiikuti dengan isak - isak kecil.
membaca paragraf berikutnya membuat air mata saya jatuh ke pipi.tangis itu tak terbendung lagi. saya menangis membaca setiap kata di tulisan itu.
luka nya kembali membuka hanya karena ketololan saya mengetik namanya.
saya pernah.
entah darimana asalnya. mungkin teringat namanya. saya menegtik dua kata itu di google. kemudian terkejut karena ternyata dia memiliki blog. saya yakin itu miliknya.
cepat, saya membuka, membaca satu persatu sampai saya membaca sebuah judulyang membuat jatung saya berhenti berdetak.
dia menuliskan saya dalam blognya. kalimat pertama membuat saya menahan nafasdiikuti dengan isak - isak kecil.
membaca paragraf berikutnya membuat air mata saya jatuh ke pipi.tangis itu tak terbendung lagi. saya menangis membaca setiap kata di tulisan itu.
luka nya kembali membuka hanya karena ketololan saya mengetik namanya.
Thursday, May 5, 2016
yang tak pernah berhenti berharap
Apakah kamu tahu rasanya mencintai
seseorang yang tidak boleh dicintai? Aku pernah. Aku pernah sekali waktu jatuh
hati pada seseorang yang begitu aku cintai tetapi seharusnya tidak.
Membingungkan bukan? Tentu saja. Bagaimana caranya mencintai sesosok yang tidak
boleh dicintai? Aku juga tidak mengerti.
Tanah
jatuh cinta pada Hujan. Dibiarkan air itu menyapukan rintik – rintik pada
wajahnya yang keras. Hujan menggelitik dengan dingin yang kelu. Kelu dan suram.
Suram dan tak berwarna. Tapi Tanah suka. Kesukaanya pada hujan ketika Hujan
dibawa gravitasi padanya. Walaupun Hujan senang menangis. Sering sekali
menangis. Tanah tetap jatuh cinta padanya. Dari kejauhan tentunya.
Tapi terkadang Hujan pergi.
Disisakan rintiknya disembunyikan dalam udara dan angin. Dan ketika dia hilang,
ganti Tanah yang tersedu – sedu ditinggal pujaan hatinya. Hujan suka sekali
pergi daripadanya. Tanah benar – benar merindunya lebih dari apapun
Mungkin kalian menganggap ini aneh.
Bagaimana Tanah mencintai Hujan yang bahkan jaraknya sangat jauh. Bagaimana
Tanah mencintai Hujan yang tak pernah disentuhnya. Tak pernah dirasakannya.
Bagaimana caranya Tanah mencintai sesosok yang tidak bisa dicintai?
Hujan
begitu jauh di atas sana dan Tanah dibawah sini. Tidak bisa bergerak hanya bisa
melihat awang – awang tempat Hujan tinggal.
Sebagai
Tanah, dia sadar bahwa eksistensinya adalah sebagai tanah. Bukan hujan. Dan
tidak akan menjadi Hujan.
Aku tanah dan tidak akan bisa menjadi
hujan.
Tanah
tahu apa yang paling berat dari mencintai hujan. Yang paling berat adalah
kenyataan bahwa Tanah harus selalu siap untuk ditinggalkan. Karena Hujan tidak
bisa berada menggantung di atas selamanya. Dia harus pergi seiring dengan
berjalannya waktu. Dia akan jatuh dan patuh kemudian lenyap.
Tapi
apakah kamu tahu kenapa Tanah masih bertahan disini? Masih menunggunya disini.
Tidak bergerak. Diam disini. Apa yang membuat dia tetap bertahan? Bertahan
menunggu Hujan?
.
.
.
Karena
setiap kali bulirnya jatuh, Tanah merasakan kecupan ciuman hangat Hujan
diantara dinginnya air yang jatuh dan membasahinya.
***
Mencintai Malam
Aku jatuh cinta pada malam yang kelam
dan misterius. Aku bertemunya malam itu ketika langit begitu gelap karena
bintang sedang pergi.
“Mungkin
ini mimpi?”, tanyaku lebih kepada diri sendiri.
Malam
tertawa. Aku segera berjalan ke ranjangku. Naik dan menutupi badanku dengan
selimut. Aku masih mengira semuanya adalah mimpi, sampai aku rasakan pelukan.
Pelukan itu tidak seperti pelukan biasa. Pelukan itu begitu dingin. Badanku
mengiggil.
“Kamu
tidak bermimpi, sayang. Ini aku. Kamu lupa kemarin aku datang dari jendelamu?”
Samar
– samar aku ingat kembali. Iya benar. Sepertinya kemarin laki – laki ini juga
datang dan mengaku dirinya malam.
“Kamu
cantik. Kemarin ketika aku sedang berkeliling, mataku menangkap dirimu dibalik
jendela ini. Aku jatuh hati. Bahkan aku tidak bisa menahan keinginanku untuk
bersama kamu.”
Aku
mencoba mengingat. Ya, aku ingat. Kemarin tanpa disengaja malam mengintip lewat
jendela kamarku. Aku melihatnya. Mata kami bertatapan. Dingin. Tatapannya
sedingin es. Kesan pertamaku saat bertemunya adalah dia begitu kelam dan
misterius seolah tidak dapat dijangkau.
Kesan
pertama itu hilang ketika dia tersenyum. Malam tersenyum memandangku hangat.
Kesan misteriusnya hilang seketika itu juga.
“Siapa
kamu?”
“Aku
Malam.”
Aku
hanya diam. Kebingungan. Yang kulihat hanya sesosok laki – laki dewasa dengan
rambut sehitam jelaga.
Sekarang
malam datang lagi. Memelukku dengan pelukan dinginnya. Aku tidak keberatan
dengan pelukannya. Tetap saja terasa nyaman. Sebenarnya tanpa Malam sadari, aku
sudah jatuh cinta padanya. Senyumannya yang terasa hangat walaupun tubuhnya
yang dingin. Dan terkadang bintang – bintang beterbangan di sekelilingnya.
“Lantas,
kenapa kemarin kamu pergi?”, aku bertanya lagi. Linglung.
“Karena
pagi datang, sayang. Bukankah kemarin ketika matahari perlahan – lahan datang
aku mengecupmu dan pergi? Aku harus pergi, karena pagi menjemput.”
Aku
mulai ingat sepenuhnya sekarang. Ternyata yang mengecupku itu Malam. Kecupannya
lebih dingin dari pelukannya. Tetapi kecupannya membuatku merasa berharga.
“Aku
mencintaimu.”, Malam berbisik.
Aku
hanya tersenyum. Tanpa disadari aku tertidur di pelukannya. Mimpi indah
tentunya.
Keesokan
paginya, yang kudapati hanya sepucuk surat di meja sebelah tempat tidurku.
Sayang, aku pergi. Pagi sudah datang.
Aku janji nanti malam aku datang. Tunggu aku.
Aku
menunggunya. Seharian ini kupersiapkan segalanya untuk malam hari ketika Malam
akan datang. Ketika langit mulai gelap, aku berdiri di tepi jendela.
Menunggunya. Pujaan hatiku.
Dia
datang. Aku tersenyum. Segera aku memeluknya. Dia mencium keningku.
“Aku
pulang.”, katanya di telingaku.
Dia
mencium bibirku. Kedua tangannya dilingkarkan di pinggangku begitu erat. Dia
tidak tahu tangan kananku memegang sesuatu.
Malam
tidak merasakan sesuatu yang aneh. Aku segera menariknya ke dalam pelukanku.
Dingin. Tangannya diangkat ke pipiku. Perlahan dia menyapukan bibirnya padaku. Sambil
berciuman dengannya, tangan kananku ku keluarkan dari balik pinggang. Kuhunus
benda tajam itu ke dadanya. Dia melolong kesakitan.
“Maafkan
aku. Aku tidak bisa setiap hari menunggumu di tepi jendela.”
Malam
itu kubunuh Malam.
01.04.16
cinta itu : hujan, merah, jakarta selata, pintu putih, indomie goreng, malam, macet, dan ...
kamu.
maaf
sudah lama saya tidak 'mengetik' ya. jadi saya akan ceritakan.
begini, 2 hari yang lalu saya berenang dengan adik laki - laki saya. entah mengapa saya berenang dengan gaya yag aneh. sehingga akhirnya pinggang saya sakit keesokan harinya.
kemudian, ketika malam semakin datang, sakit itu semakin mencekam.
lama - kelamaan saya tidak bisa berdiri dan duduk. tiduran pun sakit.
katanya ibu pijet saya, tulang atau otot di rusuk saya 'mendem' bisa juga disebut bergeser atau berpindah ke tempat yang tidak semestinya.
benar - benar deh.
menulis cerita ini saja saya sambil meringis kesakitan. tidak tahu harus menulis apa (eh ini kan tulisan)
ya, jadi saya butuh waktu.
saya akan kembali. tenang saja. saya akan kembali,
.
.
.
.
kayaknya.
begini, 2 hari yang lalu saya berenang dengan adik laki - laki saya. entah mengapa saya berenang dengan gaya yag aneh. sehingga akhirnya pinggang saya sakit keesokan harinya.
kemudian, ketika malam semakin datang, sakit itu semakin mencekam.
lama - kelamaan saya tidak bisa berdiri dan duduk. tiduran pun sakit.
katanya ibu pijet saya, tulang atau otot di rusuk saya 'mendem' bisa juga disebut bergeser atau berpindah ke tempat yang tidak semestinya.
benar - benar deh.
menulis cerita ini saja saya sambil meringis kesakitan. tidak tahu harus menulis apa (eh ini kan tulisan)
ya, jadi saya butuh waktu.
saya akan kembali. tenang saja. saya akan kembali,
.
.
.
.
kayaknya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
yang berubah dan tetap
banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...
-
mari berjalan beriringan menuju peraduan menuju tempat yang kita kenal dengan 'kenangan masa lalu' meniti langkah demi setapak ing...
-
banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...