Monday, February 29, 2016

teh tawar bisa menjadi manis jika bersamamu

aku bersamanya kemarin. seperempat hari lewat sedikit jam tepatnya. hujan masih berderas di luar sana, dan aku tidak merasakan kedinginan. bersamanya membuat semua terasa lebih hangat.
aku melangkahkan kakiku keluar. duduk di sebuah kursi kayu, membawa teh tawar hangat, memandang hujan turun perlahan. dia menyusulku keluar.
"ada apa?"tanyanya lembut.
"hanya menikmati hujan dan secangkir teh hangat."
"baiklah, aku akan menemanimu."
lima menit pertama, kami hanya terdiam. sibuk dengan pikiran masing - masing.
aku menyesap tehku perlahan dan menggenggam tangannya. hangat.
kami mengobrol tentang masa depan, sesuatu yang indah - indah. tentang mimpi dan segala hal yang menyenangkan, membuat rasa di dadaku menghangat walaupun hujan semakin dingin.
"ayo kembali kedalam.", ajakku sambil menarik lengannya.
dia tertawa menuntunku masuk. aku berhenti dan berkata padanya.
"kamu tahu? hari ini teh yang tawar sekalipun terasa manis karena aku bersamamu, dek."
dia tertawa.

Sunday, February 28, 2016

"tapi bukan berarti tetap hidup di bayang - bayang masa lalu, kan?"
.
.
.
tapi.. tapi saya masih ingin disana.
saat ini tidak semenyenangkan apa yang saya pikirkan tiga tahun yang lalu.

02:47

Ketika hari sudah semakin petang. Aku hanya ingat kamu dan cuma kamu. Yang kuinginkan adalah kamu.
Aku baru saja mematikan hubungan denganmu. Secara seluler. 10 detik yang lalu kamu mengucapkan “selamat pagi, sayang” padaku. Ya. Hari sudah terlalu pagi untuk mengucapkan kata malam. Ketika memori itu kembali menyerang pikiran dan hatiku, lengkungan bak pelangi langsung menghiasai wajahku yang tertutup gelapnya kamar.
Seharian kemarin aku bersama dengannya. Aku ingat bagaimana ia tersenyum padaku ketika mendatangi aku dengan vespa merahnya. Dia tahu aku menunggunya lama. Karena wajahku terlihat sangat jengkel. Tapi, dia tetap tersenyum dan menyuruhku naik di belakang vespanya. Jujur saja, aku kesal, dia selalu terlambat menjemputku. Dan bodohnya lagi, aku tetap menunggunya. Mengedarkan pandanganku tiap detiknya untuk mencari vespa berwarna merah.
Setelah itu, dia menancap gas vespanya. Semilir angin menyapu wajahku. Sudah terasa lebih menyenangkan dengan dinginnya hari dan punggungnya yang terlihat nyaman. Spontan, ku lingkarkan tanganku di perutnya. Dia tidak memprotes karena dia membiarkan aku memeluknya dari belakang. Ah, aku bahagia.
Kemudian ketika sampai, dia memiringkan vespanya agar aku mudah untuk berpijak kembali ke tanah. Perhatian sekali bukan? Dia tahu tubuhku pendek.
Aku masuk kerumahnya dan segera duduk. Hal itu sudah menjadi rutinitasku, masuk lewat pintu, memberi salam, dan segera menaruh diriku di sofa ruang tamunya. Dia mengambilkan aku minum, mencium dahiku.
Lalu dia duduk disampingku. Memperbolehkan aku bermanja – manja dengannya. Dia memelukku dari belakang dan membisikan di telinga kananku.
“Kamu tahu sesuatu?”
“Apa?”
“Aku jatuh cinta padamu.”
Aku tersipu malu. Kemudian aku hanya bisa memeluknya. Erat sekali sampai dia memintaku berhenti karena dirinya kesusahan bernafas. Aku tertawa riang.
Ketika aku tertawa, dia merasa tersinggung. Segera dia mendorong aku. Setelah itu yang aku ingat adalah kecupannya yang sangat hangat di bibirku.
Ingatanku kembali ketika aku mendengar suara jam yang berbunyi tiga kali. Rupanya lamunan ingatanku sudah berlangsung kurang lebih selama 13 menit. Aku memutuskan untuk mengakhiri hari. Aku berjanji ketika bangun nanti aku akan kembali membiarkan pikiranku terbang mengingat kembali dirinya.
Tepat saat aku memasukan tubuhku di dalam selimut. Telpon selulerku berbunyi. Segera ku baca nama di atas layarku. Jariku menekan tombol angkat.
“Aku rindu.”

Bisiknya dari seberang sana.

ketika merindu, harus apa?

katanya rindu itu sebuah doa? atau bahkan sebuah jarak? jadi rindu itu apa?
katanya lagi, rindu itu hanya bisa berhenti ketika pelukan hangat didapatkan, benarkah?
tapi ya, yang saya rasakan, rindu itu tidak berhenti jika mendapat pelukan. itu bohong. ketika rindu diberi pelukan, yang ada hanya rindunya bertambah dua kali lipat.
memang untuk sedetik ketika kamu ada di pelukannya, rindu itu mencair, tapi sesaat setelah kamu melepaskan pelukkanya, rindumu kembali lebih besar dan lebih besar lagi.
lantas harus apa? dipeluk selamanya?
dasar tidak logis.

Friday, February 26, 2016

Rutinitas menuju peraduan

ketika sedang menulis ini, tangan kiriku menopang kepalaku di atas meja. sambil perlahan memijit pelipisku. lalu menggaruk - garuk kepalaku walaupun tidak terasa gatal. menulis ini membutuhkan waktu. seminggu ini rasanya ruwet sekali. tugas kuliahku banyak sekali sampai kepala ini bisa meledak kapanpun.
Dia sudah tidur. Malam ini dia tidur cepat sekali. Kurang dari pukul 22 malam. Mungkin dia hanya lelah. Biarkan saja dia berada di peraduan mimpi. Aku harap sekarang aku ada di mimpinya. Tapi aku belom ingin tidur. Rasanya kantuk belum ingin datang. Apakah karena pikiranku enggan beristirahat dari satu halaman kosong di laptopku? Halaman kosong yang belum ku isi karena aku terlalu lelah untuk mengisinya. Jadi aku diamkan saja. Ternyata tidak bisa. Aku malah semakin terganggu. Lembar kosong itu seolah menatapku dan menggodaku. Ah... lelah sekali. Bisakah aku rehat sebentar saja?
Otakku berputar putar mencari jawaban. Entah jawaban untuk kegalauan ini atau jawaban dari lembar kosong di laptopku? Hah sudahlah tak penting yang mana, tidak ada yang didapat juga di otak ini. Sepertinya aku terlalu lelah. Baru saja lagu it was junenya aimee saras berhenti bersenandung dilanjutkan dengan kitanya seorang penyanyi indie yang aku tak tahu namanya tapi enak sekali didengar. Membuat aku semakin..... mengantuk. Ya benar. Mengantuk. Itu kata yang tepat. Sialnya saat melihat ke kanan, si laptop menggodaku. Aduh bagaimana ini? Aku lelah. Nah. Itu dia. Benar. Aku lelah. Berarti aku boleh tertidur, benar?
Kumatikan lampu yang berdiri di samping meja belajar. Lalu ku ambil kabel untuk dimasukkan kedalam handphoneku. Aku berlutut. Melantukan senandung doa kepada Sang Pencipta. Terima kasih. Ku ambil selimut sampai menutupi dada.
"selamat malam, kamu. Dan semoga kita bertemu di mimpi."

Monday, February 22, 2016

ketakutan tak beralasan

saya takut.
saya takut kamu akan berhenti mencinta.

saya takut kamu akan membalikkan tubuhmu, membelakangi, dan pergi.

saya takut kamu akan membicarakan sesuatu yang tidak ingin saya dengar.

saya takut kamu akan lelah untuk berusaha berjalan bersama.



tapi yang paling saya takuti adalah mencintaimu lebih dalam lagi..

meledak dan hancur

melangkahkan kaki kembali ke tempat ini adalah sebuah kemuakkan. Penat. Tidak aman. Dan menyedihkan.



Ku hampiri dia. Salah apa aku sampai dia membentakku.



Entah karena hati atau sudah waktunya, mataku berlinang. setetes dua tetes berjatuhan di atas kertas yang ku tulis.
dia merampas hak dan kebebasanku. Dia pikir dia siapa?
Berlagak seperti jagoan yang tak punya adat.


Telingaku memerah menahan panas di ulu hati.
Dia menawarkan aku sebuah pilihan.
Sampai mati pun tak sudi.
Memangnya kamu siapa? Pikiranku kembali melayang menembus otak dan jantung.


Degupan jantung membalas letupanku.



"kamu juga tidak tahu siapa dirimu, kan?"

Wednesday, February 17, 2016

aku ingin pulang

tatkala ibu jari dan telnujukku menangkat pensil untuk menulis ini, aku berada di sebuah hari senin, 6 bulan setelah aku meninggalkan SMA ku. ditengah pelajaran bahasa inggris, ku rangkai kata ini.

tapi tulisanku tidak terbaca. mataku berkaca - kaca. baru saja dua tetes air mata jatuh di pipiku. kugigit bibir sambil menggoyangkan kaki kananku.

perasaan itu datang lagi.

kutahan isakan yang akan keluar dari bibirku karena aku berada di ruang kelas C901. kulirik jam yang berada tepat di atas papan tulis. tolong berhenti kataku dalam hati.

aku mau kembali.
boleh kah?
bisa kah?

ku arahkan pandanganku ke luar dibalik jendela. mengarah ke arah yang ku tebak sebagai arah SMA ku. tentu saja mata fanaku hanya melihat jendela kosong.

Aku ingin pulang.

pulang kemana, samantha?
rumah keduaku, Kolese Gonzaga.



16 november 2015

Monday, February 15, 2016

s e n d i r i

aku mulai mengerti apa itu kesendirian.


kesendirian adalah ketika kamu harus terduduk di sudut. di sudut itu kamu hanya bisa mengedarkan butala ke berbagai arah tanpa ada fokus.


kesendirian adalah ketika di sudut itu telingamu hanya menangkap suara orang lain tanpa mendengar suaramu sendiri.


kesendirian adalah ketika kamu hanya bisa tersenyum sendiri. bersembunyi di balik gerakan bibir menjauhi gravitasi.


Sunday, February 14, 2016

kemungkinan klise

Kemungkinan. Rancu dan jahat. Membuatku sakit. Karena ‘mungkin’ tidak pasti.
Semua orang selalu berkata “mungkin saja”. Kemungkinan itu sesuatu yang ambigu. Tidak pasti. Rancu dan aku benci. Bahkan aku benci namaku sendiri karena namaku adalah sebuah kemungkinan.
Rasa.
Iya namaku Rasa. Bukankah sebuah kemungkinan adalah takdir yang jahat? Aku hanya ingin berlari dan berlari sampai lututku tidak dapat menopang beratnya tubuhku. Mencoba berlari darinya. Tidak mungkin aku kabur, aku selalu gagal. Kemungkinan merangkul bahuku setiap saat. Aku terluka akan kemungkinan yang sampai suatu hari berubah menjadi syahdu manis bernama cinta.
Rasa, aku mencinta. Aku merindu. Aku ingin kamu dan hanya kamu. Mungkinkah aku gila jika menaruh hati pada rasa? Sepertinya begitu.
Rasanya kemungkinan akan adanya gravitasi sudah tidak berlaku lagi di tempat aku berdiri. Aku pasti akan gila. Tidak. Aku sudah gila. Dengan segenggam harap mendatangi kemungkinanku. Detik itu aku tersihir dan melupakan semua kemungkinan yang  mungkin akan terjadi.
“Rasa? Aku pikir kamu tidak akan datang.”
“Kemungkinan itu tetap ada. Selalu ada bahkan di saat terkecil sekalipun. Siapa kamu?”
“Aku adalah seorang yang akan merubah kemungkinanmu menjadi tidak klise.”
Rasa menatap wajah laki – laki itu. Ketulusan tergambar jelas di raut wajahnya. Namun bagaimana dengan matanya? Dia menebak adanya ketakutan yang terpancar di mata gelapnya. Rasa terdiam larut dalam angannya yang mulai khawatir. Sampai suara laki – laki itu menghentakkannya kembali ke bumi dan membuat rasa di dadanya menghangat.
“Aku mencintaimu dengan segala kemungkinan yang ada.”
Setitik air mata jatuh di pipi Rasa. Laki – laki dihadapannya adalah kemungkinan yang tidak akan pernah dia benci sampai kapanpun.
“Kamu mau jadi kemungkinanku, Rasa?”
“Aku mau, Aras. Aku mau.”
Dengan setengah berlari aku memeluknya. Memeluk kemungkinanku.

***

hujan di langit. bukan di hati.

saya, sedari dulu tahu bahwa cinta itu tidak ada. serius.

beberapa kali menjalin relasi yang lebih dari hubungan pertemanan membuat saya sadar bahwa saya dan pasangan saya pasti akan berpisah. tidak mungkin ada kata 'langgeng'. bukan, bukan karena saya jahat.

tetapi....

karena saya tahu mencintai adalah suatu ujung perpisahan. saya pribadi tidak percaya dengan 'selamanya'.

terdengar klise memang kata - kata yang saya tuliskan habis ini.

"untuk pertama kalinya, ketidakpercayaan saya dipatahkan oleh datangnya seseorang lelaki yang biasa saja. dia tidak terlalu tampan. hidupnya sederhana. tidak ada sesuatu yang sangat istimewa darinya. tapi saya memutuskan menjadikkannya sesuatu yang istimewa bagi saya. untuk pertama kalinya, saya percaya bahwa selamanya itu tidak mustahil. saya ingin punya masa depan dengannya."

jatuh hati pada lelaki itu adalah kata yang paling tepat. tapi saat ini cukuplah kalian mengetahui bahwa ada seorang lelaki yang istimewa di hati. cerita yang mau saya tuliskan saat ini adalah satu hari di antara hari - hari lainnya.

sembilan bulan yang lalu, saya merasa valentine adalah hari yang biasa saja. toh mengungkapkan kasih sayang bisa setiap hari. ternyata hari kasih sayang tahun ini sangat sangat penuh kasih.
hari ini saya percaya bahwa dia adalah yang benar. yang saya butuhkan. dan yang saya inginkan.

dia... sempurna. setidaknya untuk saya.

kami hanya makan dan menonton film. biasa saja bukan? tapi tidak ada hari yang biasa saja ketika bersama dengannya.

sekitar pukul 1 siang kami mampir ke sebuah cafe bertemakan cokelat. hujan turun perlahan. dibawah temaram lampu kuning, dia memeluk saya dan membisikan tiga rangkai kata ajaib


"aku mencintaimu."

"aku juga demikian."


hari itu ditutup dengan perpisahan kami di pintu mobilnya. saya menunjuk langit di depan mata kami.
"langitnya jingga!"

"indah ya?"

sama seperti hari ini. seru saya dalam hati. sesaat saya melambaikan tangan padanya dan berlari - lari kecil menuju rumah dengan masih turunnya hujan di langit. bukan di hati kami.



Saturday, February 13, 2016

Friday, February 12, 2016

sedetik

Sedetik dan sedetik adalah segalanya.

Orang bilang sedetik itu bukan apa – apa. Sedetik hanyalah satuan waktu yang benar – benar tidak berguna. Tak ada yang menganggap bahwa sedetik sesuatu yang penting. Apa yang bisa didapat dari sedetik? Mereka kira mereka tahu segalanya? Mereka tidak tahu bahwa sedetik adalah segalanya yang kamu butuhkan.

Ketika kamu berpikir bahwa detik adalah satuan terkecil waktu. Di sanalah paradigmamu akan sedetik menjadi salah. Tidak. Sedetik bukan satuan terkecil. Diam adalah satuan terkecil. Dalam sedetik, semuanya dapat berubah. Sedetik menjadi asal mula dari setiap detik. Yang kamu butuhkan sebenarnya hanyalah sedetik.

Aku adalah makhluk posibiltas sekaligus aktualitas. Bagiku yang penuh posibilitas, apa yang lebih penting dari sedetik? Segala posibilitas bermula dari sedetik. Aku percaya bahwa sedetik memulai segalanya. Sedetik ketika aku lahir. Sedetik ketika aku bertumbuh. Sedetik ketika aku pertama kali tertawa. Sedetik ketika aku menangis. Dan sedetik – sedetik lainnya. Tentu saja sangat banyak karena detik berjalan dengan sangat cepat. Tapi detik yang yang paling aku sukai sejauh ini adalah detik ketika mataku menatap matanya.

Sudah kubilang bukan bahwa sebuah sedetik adalah suatu hal yang ajaib. Dalam sedetik, segalanya bisa berubah. Duniaku berubah dalam waktu sedetik ketika aku bertemu dengannya. Setiap detik dalam setiap menit dan setiap jam, juga hari bahkan tahun kuhabiskan dengannya. Lama kelamaan detik – detik tersebut aku kumpulkan untuk bisa meluangkan setidaknya satu jam bersamanya. Aku suka semua hal darinya. Matanya, bibirnya, pipinya, senyumannya, rambutnya yang diikat satu, dan semuanya menjadi sebuah kombinasi paling sempurna yang pernah aku lihat. Aku bahagia. Setidaknya detik itu.

Sedetik kemudian aku kembali tidak bahagia. Dia meninggalkanku. Gadis kurang ajar itu meninggalkan diriku yang begitu mencintainya. Lalu aku mengutuk sedetik.

Aku mencintainya lewat sedetik itu, dan dia meninggalkan aku lewat sedetik yang sama.

***

titik awal

mungkin sudah terlalu terlambat untuk menulis blog pada era 2016 ini. benar?

SALAH.

tak ada salahnya belajar menulis dan mempublikasikannya kepada dunia.

saya adalah gadis berumur delapan belas tahun dengan kacamata minus 8, berambut hitam kurang dari sedagu yang mencintai sebuah karya sastra. selain mencintaimu, saya mencinta puisi. menurut saya puisi adalah sebuah aksara yang menari di atas lembaran kertas. dan tidak ada yang lebih membahagiakan menuangkan luapan isi hati dan pikiran ke dalam sebuah tulisan. puisi dibuat dari hasil olah imajinasi dengan segala hal di bawah langit dan di atas bumi.

cinta saya yang ketiga adalah cerita pendek. 'dia' menjadikan segala hal di semesta ini menjadi mungkin.

mengapa blog ini diberi identitas sebagai surealismeidiosinkritis? apa pula itu? surealisme menunjukkan sebuah hal yang tidak jelas. diluar akal yang bisa dipikirkan manusia. sebuah karya adalah suatu yang bersifat surealisme. sembunyi - sembunyi. memiliki makna di dalam makna tersembunyi. sementara idiosinkritis mengartikan sebuah keunikan tersendiri. tunggal. dan satu - satunya. dan mungkin aneh. tapi kata 'aneh' tidak dipakai. yang saya pakai adalah sebutan unik.

lantas jika blog ini berisikan sebuah ketidakjelasan, mengapa harus dibaca? sesungguhnya tidak perlu menggunakan kata harus. kebebasan membaca ini saya serahkan kepada pemikiran pembaca untuk menyuruh mata dan tangan bergerak.

oh,ya. nama saya samantha.

yang berubah dan tetap

banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...