Monday, December 5, 2016

jendela bundar dan kopi hitam

Entah kenapa kaki melangkahkanku duduk di samping jendela bundar. Sinar terang menusuk mataku ketika ku berjalan untuk duduk disana. Tak apa. Aku anak matahari. Cahayanya membuat semua terasa sempurna.
Aku memesan secangkir kopi hitam. Sehitam hari dan seberat asa. Dan sebelum pikiran itu kembali cepat ku buka buku yang sedang ku baca. Buku bisa mengalihkan pikiranku pada hal hal yang berat dan hitam beberapa hari ini.
Rasa pahit dari kopi membuat aku semakin menyadari bahwa definisi dari pahit adalah sejak dia memutuskan untuk meninggalkanku sendiri 2 bulan yang lalu.
Rasanya mual. Aku tutup buku yang ada di atas meja. Dan menengok ke sebelah kanan. Ke arah jalanan yang penuh dengan warna warna orang berlalu lalang.
Aku terdiam. Berfikir keras. Meratapi nasib. Hampir tersedu sedan tapi ku tahan.
Rasa tak pernah berbohong dan air mata yang jatuh di pipiku adalah buktinya. Aku menghapusnya cepat.
Tanpa kusadari di sebrang jalan ada sesosok yang sangat ku kenal. Yang begitu aku rindukan dan menyebabkan kehambaran dalam hidupku.
Dia berjalan perlahan menuju jendela bundar dimana aku ada di baliknya.
Dia tersenyum. Mengetuk kaca dengan jari telunjuknya.
Mulutnya membuka untuk merangkai kata
M a a f
aku berlari keluar dari cafe itu. Menuju keluar dan dia berdiri di samping jendela bundar. Aku berlari memeluknya.
"Kamu tahu tidak kopiku sangat pahit 2 bulan ini?"
"Sekarang kamu bisa tambahkan gula lagi."

Thursday, December 1, 2016

si jalang

Mereka tidak pernah tahu
Betapa indah dan lihainya
kau sembunyikan kebusukan itu rapat rapat
dibalik senyuman menjijikanmu

ku ucapkan selamat untuk kepiawaianmu membohongi semua asa
membuat semua orang percaya
bahwa egomu adalah definisi dari kesempurnaan

tapi kamu tak tahu bukan?
mata kepalaku lihat titik titik hitam itu
Aku melihatnya, jalang!

ya. benar.
aksara yang sesuai denganmu adalah jalang, wanita jalang!

Wanita jalang bersembunyi dalam beludru warna warni menutupi kepala hitamnya
Kenapa tak kau lepas saja parasmu?
Biar mereka menyaksikan realitas yang sebenar benarnya

Berhenti bersembunyi dibalik senyuman dan warna warni itu.
tunjukkan betapa jalangnya dirimu!

Tuesday, November 29, 2016

?

berderai - derai tirta kencana gemerlapan di sudut netranya
durjana tersebut tercampak melewati pipi semu merahnya sebelum jatuh ke butala

ego ditampar realitas gambaran wanita yang terpantul di depan
dia menangis.
kemudian fuad dan akal seperti dijatuhi reruntuhan
bayangan tangisan itu,
puan indah itu,
tak piawain melawannya,

sudah berakhir remasan jantungku 

tulisan terakhirku (di bulan november)

saya lelah.
karena lelah yang bisa saya sampaikan ya tulisan di atas.
sekian.











HAHAHAHA saya bercanda,
ok.


bagaimana kalau waktu berhenti bergerak? semua hal di dalam semesta ini terdiam bagai patung? atau bagaimana kalau kesunyian meliputi segala hal?
bisakah terjadi demikian?
karena jika memang benar terjadi mungkin manusia tak perlu sesulit itu untuk bisa hidup.
manusia harus selalu bergerak, bukan?
jadi jika seluruh dan semua hal tanpa terkecuali 'mati' bisu dan tak bergerak, mau jadi apa manusia?
dingin dan kelu?
hampa dan tak berharga?
kosong dan tak bersegi?
ya.. hanya ada ketikadaan.
ketidakadaan didalam hidup berarti tidak hidup
tanpa hidup berarti tidak akan ada masalah apapun
tiada masalah membuat segalanya lebih mudah.
jadi bagaimana kalau sekarang kita semua terdiam?
mungkin hati ini juga akan mati dan diam.

Monday, November 7, 2016

Mata Cokelat

Karena mata cokelat itu menyihirku. Menjadikan realitas hanyalah kebohongan belaka. Aku terpaku. Aku hanya ingin jatuh dan mencinta pada mata cokelat itu.
Aku pertama kali melihatnya ketika salju turun pertama membasahi bumi dengan putih. Tidak seperti hatiku yang biru. Begitu kontras dengan putihnya salju. Aku melihatnya duduk disebuah bangku taman. Membaca sebuah buku yang tidak jelas judulnya. Entah apa yang menarikku. Aneh. Aku menghampirinya. Benar – benar klise.
“Hai.” sapaku.
Dia mengangkat kepalanya . Dengan pipi merah kedinginan dan senyum mengembang dia membalas sapaku.
“Hai juga.”
Saat itulah aku melihat matanya. Terbingkai kacamata tebal namun tetap terlihat jelas matanya. Bukan hitam kelabu melainkan cokelat. Cokelat muda itu mengingatkanku pada  karamel. Begitu manis dan lembut namun di satu sisi tajam dan memabukkan. Mulutku kelu. Aku mengumpat dalam hati. Aku tahu sejak detik itu aku telah jatuh cinta pada sepasang mata berwarna cokelat.
Aku duduk disampingnya. Bertanya siapakah gerangan nama gadis itu.
“Bintang.”
“Bintang? Namamu bintang?”
“Iya. Mengapa?”
Aku hanya tertawa dan memandang langit.
“Itu kamu?”, kataku menunjuk langit.
“Mungkin orangtuaku disana. “
Aku terdiam. Kembali termenung di tengah putihnya salju. Hatiku sudah tidak biru. Mungkin sekarang berwarna cokelat seperti matanya. Menenangkan.
“Namamu siapa?”, tanya Bintang.
“Aku Bulan. Suatu kebetulan yang luar biasa bukan? Namamu dan namaku adalah penghias malam di atas sana.”
Mata cokelatnya menatapku untuk terakhir kalinya dan tersenyum

“Benar juga.” 

tidur dan waktu

saya hampir saja melompat dari tebing. secara metafora tentu saja.
tapi tunggu..
ada kemungkinan beberapa persen kalau itu juga harafiah
mengapa demikian?
banyak hal yang membuat saya akhirnya memiliki sahabat baru dan musuh besar
jadi saat ini tidur adalah sahabat terbaik yang saya punya. kami berdua ingin selalu bersama tetapi seringkali dipisahkan oleh musuh terbesar saya: waktu
teruntuk waktu, saya ingin sekali menusuk anda dengan benda tajam seperti misalnya dengan jarum anda sendiri agar anda berhenti berdetik, bermenit, dan berjam.

banyak sekali hal yang harus saya pikirkan dan kerjakan. untung saja saya tidak jadi melompat dari tebing.
maka dari itu,
waktu, ijinkan saya bertemu sahabat saya nanti malam ya.

Sepasang Sayap

Sepasang Sayap
Andaikan aku punya sepasang sayap, aku pasti akan pergi dari sini. Meninggalkan semua yang ada. Sayap itu akan membuatku terbang menjauh dari dunia dan pergi ke angkasa menuju sesuatu yang lebih baik.
Semua orang akan mengatakan aku Si Gila. Si Gila berkacamata dengan imaji yang terlalu luar biasa untuk diproses otak. Ya. Benar. Aku gila. Aku menyadari hal itu. Tentu saja. Apa yang tidak aneh dari seorang pengidap down syndrome? Wajahku begitu pucat untuk dibandingkan dengan semua hal. Wajahku aneh. Normal pun tidak, bagaimana ingin cantik? Namun tak pernah sekalipun aku merasa diriku sebagai yang terbelakang. Selalu kuyakinkan dan kumantapkan hati bahwa aku baik apa adanya. Bisa bernafas pun membuat aku menjadi manusia yang paling beruntung.
Seolah seluruh dunia ikut meyakinkan dan mengklarifikasi bahwa aku aneh. Seolah – olah dunia ingin menjatuhkan aku. Padahal, salah apa aku? Aku tidak salah apapun kan? Aku baik – baik saja, bukan?
Sampai suatu kali goyahku jatuh dan terjerembab. Manusia jahanam itu lagi – lagi melayangkan pandangannya ke arahku dengan tatapan yang jauh dari kata sopan. Sengaja dia ingin merendahkan aku manusia aneh ini. Sering kali dan banyak kali aku tidak acuh dengan tatapan sinisnya. Tatapan yang merendahkan diri dan membuatku merasa aneh. Tak ku gubris. Sekali pun. Sampai hari ini.
Manusia sial itu tetap memandangku. Bibirnya mencibir dan suara jahat itu keluar,
“Gadis bodoh bermuka aneh. Apa yang kau lakukan disini?”
Semua bibir terkatup menutup. Hening. Semua pasang mata memandang ku.
“Ke.. na.. pa?”, patahku
“Kalau sudah cacat jangan belagu seperti itu. Kamu aneh dan adanya kamu disini membuat kami terlihat aneh pula. Jangan dekati kami.”
Seluruh dinding dalam hatiku runtuh. Aku tahu aku gadis aneh yang invalid. Tapi bukankah aku tetap punya hak dan kebebasan untuk tetap berada disini? Tertawa dan merasakan hidup sepenuhnya?
Aku berjalan keluar ruangan. Menitikan satu demi satu air mata yang jatuh dengan bantuan gravitasi. Aku tak peduli. Rasanya sudah terlalu lelah untuk menahan jatuhnya air mata. Bahkan untuk mengangkat tangan dan menyeka air mata sudah menjadi sesuatu hal yang terlalu berat untuk kulakukan sendiri.
Duduklah aku di taman. Berdiam dan menangis. Menyesali nasib sebagai anak down syndrome.
Rasanya ingin punya sayap.
Iya. Sayap yang dapat membuatku terbang jauh dari sini. Dari penderitaan durjana dan pedih ini.
Ku ambil benda tajam yang berkilau itu dari kantung celanaku.
Kuhunus benda tajam. Terlalu berat.
Maafkan aku, aku terlalu ingin punya sayap.
Dibalik semburat darah memancar, tumbuhlah sepasang sayap dan aku pergi. Tersenyum.

***


beradu

sementara kita saling beradu
mata dengan telinga
kepala dengan hati

mengapakah durjana begitu penat
dingin dan kelu
karena dinginnya pagi
ataukah beradu kita berakhir

teuntuk menjadi cinta yang tunggal
tiada berlegi hanya untuk dinda
dalam keheningan kamu tergugu
aku harus apa

dan peraduan itu pergi

Wednesday, October 12, 2016

rindu 'rumah'

aku butuh doraemon sekarang. satu - satunya alat yang ku mau adalah mesin waktu.
karena ketika aku menulis ini, semua orang sedang bernostalgia dengan seragam putih abu - abunya
aku juga rindu!, kataku.
tulisan temanku tentang Gonz indah sekali dan begitu mengena
dan sekarang aku semakin sadar betapa aku merindukan rumahku itu
Gonzaga memang bukan sekolah, Gonz adalah tempat untuk pulang
dan penyesalan memang selalu datang terlambat bukan?

aku begitu merindukannya sampai sampai menangis saja tidak cukup.
jadi aku akan sedikit throwback ke masa - masa paling indah dalam hidupku. (ya walaupun ada jatuhnya, ambil bagian yang menyenangkan saja) (karena memang lebih banyak yang menyenangkan)

juli 2012 adalah waktu - waktu yang begitu mendebarkan. mungkin kalian tidak percaya kalau aku ingin sekali bersekolah di SMA Kolese Gonzaga sejak sekolah dasar kelas 6. aku ingin sekali!!
jadi ketika kelas 3 smp aku akhirnya bisa daftar di Gonzaga, segera aku mendaftar. sempat takut ya tapi ketika aku melihat pengumuman di kolesegonzaga.com aku berhasil keterima di sekolah yang aku inginkan selama 4 tahun itu.

menyenangkan adalah ketika kamu ke Gonz dan waktunya membeli seragam. memang memalukan, tapi seragam itu segera kucuci dan kupakai beberapa kali sebelum MOPD. rasanya keren sekali memakai seragam putih abu - abu dan roknya adalah kulot.

MOPD, pengalaman yang tidak terlupakan. penuh kekejaman yang mendidik. dan tahu tidak? ketika akhirnya kami dilantik menjadi bagian dari komunitas Gonzaga kami menyanyi Mars Gonzaga. Kalian tahu tidaksih ketika menaruh kepalan tangan di dada kiri sambil menyanyikan Mars Gonzaga adalah suatu kebanggan. aku bangga sekali

berlanjut ke jambore. aku belajar sangat banyak disana. teguran - teguran membuat kami semua akhirnya benar - benar menjadi bagian dari Gonzaga

setahun terlewati. tahun kedua di Gonz adalah masa yang menyenangkan sekaligus jatuh. tetapi tetap menyenangkan. di tahun kedua aku dan teman teman mengikuti live in yang membuatku lebih belajar lagi tentang apa arti keserdehanaan.

ternyata setahun itu waktu yang sangat cepat ya. kelas 3 sudah dijalani. ret - ret, to - to, ujian praktek, uas, dan tiba - tiba saja sudah UAN. saat itu aku belum menyadari betapa aku akan merindukan Gonz dengan sangat. pengumuman dan kemudian wisuda. hari terakhir secara resmi aku di Gonzaga. hari itu ketika pulang kembali kerumah. rasanya berat sekali untuk 'meninggalkan' rumah. aku tahu memang aku akan bisa kembali kesana tapi tentu saja ada yang berbeda.

sebenarnya kenapa sih Gonzaga bisa membuatku begitu rindu SMA? banyak sekali,
contohnya tentang pedoman kami yaitu bebas bertanggung jawab.
bebas bertanggung jawab itu dibuktikan dengan seragam kami yang sebenarnya semi bebas. sepatu bebas, kaos kaki bebas. semuanya bebas asalkan bertanggung jawab. semua acara - acara dilakukan untuk mendidik agar semua siswa bisa menjadi leader, menjadi man and woman for others. dulu aku sempat malas untuk mengikuti yang seperti itu. ternyata detik ini aku begitu merindukannya
sambil menulis ini aku mendengarkan youtube. video dari senior kami angkatan 20. aku angkatan 26.
judulnya :

(Cuplikan) Video Tahunan Kolese Gonzaga Angkatan 20 Tahun 2009 "Yan Tan Tethera"

buka detik ke 2:48
astaga lagunya itu loh! membuat hati teiris rasanya.

aku tahu sekarang Gonzaga adalah rumah ketika aku butuh tempat untuk pulang.

dan jika doraemon benar - benar ada. aku akan minta mesin waktunya untuk kembali ke juli 2012. karena menjalani SMA sekali lagi bukan masalah besar buatku.


20.37
dari samantha yang rindu sekali
sampai tulisan ini isinya curhat
bukan sesuatu yang indah.
tak apa ya?

Thursday, September 29, 2016

lantas bagaimana?

aku tak ingin bersamamu
atau lebih tepatnya
aku tidak bisa

berada disebelah mu,

menyadarkan kepalaku di atas dada bidang mu,

mengecup lembut pipi mu,

dan mencinta mu,

adalah empat hal yang terlarang bagi diriku

tetapi
.
.
aku mau

tujuan setitik debu

aku hanyalah setitik debu
kecil tak berarti
paradigma manusia mengatakan aku tak esensial

apa itu setitik debu?
tidak ada gunanya pikir mereka
tapi aku punya tujuan
tujuanku adalah menjadi tujuan bagi manusia

aku bukan sesuatu yang menarik bagi kalian
bukan pula hal signifikan dari hal - hal besar
bukan
bukan itu
aku punya tujuan yang sebenarnya hanya sederhana

kalian mungkin memang tak butuh eksistensiku
aku tahu benar
katanya  eksistensi tanpa esensi sama dengan mati
aku tidak mati
aku memiliki eksistensi

pernahkah terbersit pertanyaan
mengapa setitik debu ada?
jawabannya satu
untuk mengingatkan manusia apa yang aku tutupi

kesadaran kalian mengenai betapa pentingnya hal yang aku tutupi akan muncul
saat setitik debu ada
sudah ku katakan
tujuan kami sederhana

yang perlu kalian lakukan adalah menyadari tujuan setitik debu
menghapuskan kami dan segala intisarinya

setitik debu rela berada dalam ketidakadaan
asalkan tujuannya sudah terlaksana

Monday, September 26, 2016

ini curhat saja ya..

saya lagi suka sekali dengan lagunya Banda Neira yang berjudul :

'Sampai Jadi Debu'


liriknya tuh sederhana tetapi aduhai berarti sekali. musik dan liriknya kawin sekali. apalagi dengan dentingan piano oleh Gardika Gigih yang dimulai detik ke 0.05 membuat saya jatuh cinta pada pendengaran pertama dengan nadanya. kemudian ketika suara Rara Sekar muncul, rasanya syahdu sekali tiba tiba kamar kosan saya. kurang lebih 3 menit kemudian ketika Rara Sekar mengaksarakan lagunya, hati saya langsung berhenti berdetak. suka sekali mulai dari diksi pertama. dilengkapi dengan suara khasnya Ananda Badudu menjadikan lagu ini sangat sangat harus didengarkan di tepi jendela sore sore ketika hujan! kalian harus dengar ya sobat... (ewhhh)

liriknya seperti ini :

badai tuan telah berlalu
salahkah ku menuntut mesra
tiap pagi menjelang
kau di sampingku
ku aman ada bersamamu

selamanya
sampai kita tua
sampai jadi debu
ku di liang yang satu
(ku disebelahmu)

badai puan telah berlalu
salahkah ku menuntut mesra
tiap taufan menyerang
kau di sampingku
kau aman ada bersamaku

selamanya
sampai kita tua
sampai jadi debu
ku di liang yang satu
(ku disebelahmu)

apa yang salah, adinda?

apa yang salah, adinda?
mengapa kau berpaling?
rasa hati yang melanda
terlihat di matamu

adinda,
jangan membuatku tersiksa
menyakiti sejuta asa
menjadikan otak merasa luka menganga

adinda, apa yang salah?

Apa Yang Salah (adaptasi puisi 'apa yang salah, adinda?')

Bisakah kamu melihat betapa cintanya aku padamu. Bagaimana aku memberikan hatiku seutuhnya. Hanya untukmu.
Apa yang salah, adinda? Mengapa kamu selalu berpaling dari hadapanku? Aku lelah ditinggal pergi.
Apa yang salah? Tidak ada yang salah. Jangan membuat masalah ketika tidak ada masalah.
Kamu tersenyum.
Tetapi esoknya kamu membenci aku.
Kamu berkata kamu mencintai aku.
Esoknya kamu menamparku dengan kata bencimu.
Begitu cintanya aku padamu, maka aku bertahan disini. Aku selalu disini.
Ku tanya sekali lagi. Apa yang salah, adinda? Mengapa tidak bisa kau biarkan aku mencintaimu?
Untuk pertama kalinya aku memohon. Pandanglah kedua mataku. Di dalamnya kamu akan melihat aku. Aku yang begitu mencintaimu, tanpa syarat sekecil debu pun.
Untuk kedua kalinya aku memohon. Biarkan aku menggenggam jemarimu. Di saat itu kamu akan merasakan betapa hangatnya cintaku padamu.
Untuk ketiga kalinya aku memohon. Lihatlah aku yang berdiri disini. Hanya untukmu. Menunggu kamu tanpa kenal lelah. Lihatlah aku yang begitu mencintaimu tanpa mengerti hukum waktu.
Apa yang salah? Tidak bisa kah kamu berhenti berlari dari aku dan mulai berhenti untuk aku kejar?
Aku cuma ingin kamu tahu bahwa tidak ada yang salah. Jadi tolong lihat aku dan berkata semuanya  baik – baik saja dan memang tidak ada masalah.
“Maaf, yang salah ada padaku.”, katamu menjawab pertanyaanku.
Ku diam.

***

Rindu Sebuah

rindu sebuah aksara mati/melayang layang//
rinu sebuah jarak menebas meretas/terbungkm mulut terkatup//
rindu sebuah tanya/ dari saksi bisu air mata//
rindu sebuah realitas/tergugu/terisak/antara dirimu dan aku//

Rindu Sebuah (Adaptasi dari puisi 'Rindu Sebuah' )

Rindu sebuah aksara mati melayang – layang. Ketika kamu merindu aku. Itu hanya sebuah aksara. Aksara mati yang tidak hidup.
Kirana mencintai lewat monitor. Dirinya memandang layar monitor itu untuk merindu. Memeluk layar hanya untuk mengungkapkan rasa cinta. Yang dilihatnya hanyalah warna – warni monitor dan sesosok wajah yang bergerak.
Wajah yang dicintainya itu dimiliki oleh seorang lelaki bernama Gama. Lelaki yang paling Kirana cinta. Tetapi apa daya ketika jarak harus tertawa ketika Gama harus berlayar ke benua sebelah. Hati Kirana hancur. Tapi dia tau dirinya tak bisa merengek – rengek seperti anak kecil. Dia harus belajar merelakan agar Gama dapat meraih apa yang diimpinkannya.
Mereka berdua belajar bahwa rindu adalah sesuatu yang sakral. Yang dapat mereka lakukan hanyalah bertemu tatap dibalik layar monitor masing – masing.
Kirana menangis dibalik senyumannya di depan layar. Gama merengut dibalik tawanya di depan layar.

Tetapi apa daya? Rindu itu tetap memiliki eksistensi.

waktu berhenti saja lah!

mengapa waktu harus terus berjalan?
apakah sang kronos tak ingin beristirahat
barang sejenak saja?
banyak jiwa berharap
agar waktu berhenti saja
karena dengan itu kebahagiaan tak lekang oleh waktu

tapi,
pada akhirnya manusia tak bisa melakukan apa - apa, bukan?

jelita.

jelita menari nari terbakar di depan netra
wajahnya mengambar garis vertikal mengembang
yang membuat dada ini ngilu 
serta gemeretak gigi

meledak pula kepala jelita
tidak ada darah mengucur
hanya kekecewaan yang begitu dalam
dan sekujur tubuh menggigil bersalah

sampai akhirnya
gambaran itu berganti kekosongan
kemudian terang



U

seradu padu benalu terlalu
terlalu memalu mengilu
mengilu lalu beradu
beradu semu meramu
meramu debu semu
semu kamu lalu aku
erak begitu penat
sembari gundah menemani
kemudian asa memanggil manggil lirih
lelah mulut dan telinga
mataku sayu sayu melemah hidung cium busuk

lalu mengapa tidak berbalik saja?

ingin ku...

ingin ku jadi matamu
untuk menetrakan tatapan butalamu
ingin ku jadi telingamu
mendengar suara yang hanya bisa didengar olehmu
ingin ku jadi hidungmu
mencium aroma yang kamu cium
ingin ku jadi bibirmu
untuk merasakan sentuhan lembut bibir kita yang saling beradu
ingin ku jadi rindumu
seperti isyarat yang tiada terssampaikan
ingin ku jadi cintamu
biar ku hidup seutuhnya
bagaimana membuat aksara mati?.
.
.
atau ku harus mati juga?

Sunday, August 21, 2016

Monday, August 15, 2016

duapuluh limadua

melukis warna warni di atas lembaran hitam itu tiada beresensi, kawan!
jika diibaratkan dengan kesamaan maka itu adalah sia sia
dan kalau saja memang hasrat, kenapa tak digambar di atas kertas polos?
manusia berpikir untuk berasumsi, bukan? 
jangan menyalahi realitas kebenaran yang sesuai dengan realitas
untuk itu tidaklah baik terjebak dalam elegi yang semu

pengakuan.

bagaimana caranya menulis sesuatu yang tidak bisa ditulis? saya sudah tidak bisa lagi menulis.

Monday, June 27, 2016

Ketika Kamu Ada

Yang aku tahu adalah kamu selalu ada disampingku. Dan yang kubutuhkan memang hanya itu.
Aku terbangun lagi malam ini. Terengah - engah. Keringat mengalir dari pelipisku walaupun tempat aku tidur memakai pendingin ruangan. Aku rasakan jantungku berdetak dengan cepat. Aku panik. Ini mungkin sudah ketujuh kalinya dalam seminggu aku terbangun karena mimpi buruk. Dan sampai ketujuh kalinya dia masih menemani aku. Laki laki ini tidur di sampingku dan refleks dia ikut terbangun. Dia tau aku mendapat mimpi buruk lagi. Aku tahu, tanpa melihat, kantuknya sudah sirna bersama kekhawatirannya selama seminggu ini. Segera dia bergerak ke depanku. Mendekap kedua pipiku dengan tangan kanan dan kirinya.

"Ada apa sayang?"
Aku tidak bisa menjawab. Jantungku masih berdetak cepat.

"Aku disini. Jangan khawatir. Aku disini"

Dia memelukku. Tubuhku yang sedari tadi bergetar perlahan berhenti bersama dengan pelukannya. Dia memelukku sampai hangat tubuhnya menjalari tubuhku. Tangan kanannya mengelus punggungku dan rambut belakangku.

"Kamu baik - baik saja. Aku disini untuk kamu."

Debaran jantungku berangsur berkurang. Rasanya begitu tenang. Rasa ingin tidur ku kembali. Dia tau. Dia segera menidurkan aku di ranjang. Menaikkan selimut sampai ke dadaku. Mengecup dahiku. Aku tersenyum

"Kamu baik baik saja, bukan?"
"Selama kamu ada disini aku tahu aku baik - baik saja"

***


saya. detik ini.

kata lainnya sendiri itu 'tidak menyenangkan'
dan ketika sendiri karena ditinggal pergi itu 'sangat tidak menyenangkan'

di bawah temaram lampu jingga, di malam kurang dari jam 12,

mencintai,
rasanya.

Tuesday, June 14, 2016

Dara

Mengenai gadis berkuncir satu yang sedang berdiri terduduk kelu di ujung jalan
Merah dara bibirnya terbalik dari gravitasi atau kebalikannya
Kepalanya terbuka diikuti kebulan asap putih berisi warna warni lain

"Ah. Mati lah."

Tulisan di sana bergerak kemudian lenyap
Beberapa saat kemudian,
    Bukan hanya bibirnya yang semerah dara,
               Raganya terselimuti darah.

Sunday, June 5, 2016

Kalau bulan bisa berkata

Kalau bulan bisa ikut berkata
Apa yang sekiranya akan dikatakannya
Sumpah serapah kah kepada kalian para antagonis
Dapat juga dia mengatakan mengenai kebijaksanaan kepada diriku
Atau..
Bulan hanya akan terdiam kelu
Menatap kosong
Ke antara kami

Monday, May 16, 2016

melari

memandang kelabu yang belagu
sendu bertandak merasuk dan merintih
khalayan semesta beria - ria
meruahkan harapan memudar
di msygul serta kelunya rana
selepasnya
       adam langkahkan raga
       lalu sukma berlomba melari

Monday, May 9, 2016

dua belas bulan kurang sepuluh hari

aku membutuhkanmu lebih dari yang kamu ketahui.

ah.

pernah tidak kalian menemukan sesuatu yang berhubungan denga masa lalu?
saya pernah.
entah darimana asalnya. mungkin teringat namanya. saya menegtik dua kata itu di google. kemudian terkejut karena ternyata dia memiliki blog. saya yakin itu miliknya.
cepat, saya membuka, membaca satu persatu sampai saya membaca sebuah judulyang membuat jatung saya berhenti berdetak.
dia menuliskan saya dalam blognya. kalimat pertama membuat saya menahan nafasdiikuti dengan isak - isak kecil.
membaca paragraf berikutnya membuat air mata saya jatuh ke pipi.tangis itu tak terbendung lagi. saya menangis membaca setiap kata di tulisan itu.
luka nya kembali membuka hanya karena ketololan saya mengetik namanya.

Thursday, May 5, 2016

yang tak pernah berhenti berharap

Apakah kamu tahu rasanya mencintai seseorang yang tidak boleh dicintai? Aku pernah. Aku pernah sekali waktu jatuh hati pada seseorang yang begitu aku cintai tetapi seharusnya tidak. Membingungkan bukan? Tentu saja. Bagaimana caranya mencintai sesosok yang tidak boleh dicintai? Aku juga tidak mengerti.
Tanah jatuh cinta pada Hujan. Dibiarkan air itu menyapukan rintik – rintik pada wajahnya yang keras. Hujan menggelitik dengan dingin yang kelu. Kelu dan suram. Suram dan tak berwarna. Tapi Tanah suka. Kesukaanya pada hujan ketika Hujan dibawa gravitasi padanya. Walaupun Hujan senang menangis. Sering sekali menangis. Tanah tetap jatuh cinta padanya. Dari kejauhan tentunya.
            Tapi terkadang Hujan pergi. Disisakan rintiknya disembunyikan dalam udara dan angin. Dan ketika dia hilang, ganti Tanah yang tersedu – sedu ditinggal pujaan hatinya. Hujan suka sekali pergi daripadanya. Tanah benar – benar merindunya lebih dari apapun
            Mungkin kalian menganggap ini aneh. Bagaimana Tanah mencintai Hujan yang bahkan jaraknya sangat jauh. Bagaimana Tanah mencintai Hujan yang tak pernah disentuhnya. Tak pernah dirasakannya. Bagaimana caranya Tanah mencintai sesosok yang tidak bisa dicintai?
Hujan begitu jauh di atas sana dan Tanah dibawah sini. Tidak bisa bergerak hanya bisa melihat awang – awang tempat Hujan tinggal.
Sebagai Tanah, dia sadar bahwa eksistensinya adalah sebagai tanah. Bukan hujan. Dan tidak akan menjadi Hujan.
Aku tanah dan tidak akan bisa menjadi hujan.
Tanah tahu apa yang paling berat dari mencintai hujan. Yang paling berat adalah kenyataan bahwa Tanah harus selalu siap untuk ditinggalkan. Karena Hujan tidak bisa berada menggantung di atas selamanya. Dia harus pergi seiring dengan berjalannya waktu. Dia akan jatuh dan patuh kemudian lenyap.
Tapi apakah kamu tahu kenapa Tanah masih bertahan disini? Masih menunggunya disini. Tidak bergerak. Diam disini. Apa yang membuat dia tetap bertahan? Bertahan menunggu Hujan?
.
.
.
Karena setiap kali bulirnya jatuh, Tanah merasakan kecupan ciuman hangat Hujan diantara dinginnya air yang jatuh dan membasahinya.

***


Mencintai Malam

Aku jatuh cinta pada malam yang kelam dan misterius. Aku bertemunya malam itu ketika langit begitu gelap karena bintang sedang pergi.
“Mungkin ini mimpi?”, tanyaku lebih kepada diri sendiri.
Malam tertawa. Aku segera berjalan ke ranjangku. Naik dan menutupi badanku dengan selimut. Aku masih mengira semuanya adalah mimpi, sampai aku rasakan pelukan. Pelukan itu tidak seperti pelukan biasa. Pelukan itu begitu dingin. Badanku mengiggil.
“Kamu tidak bermimpi, sayang. Ini aku. Kamu lupa kemarin aku datang dari jendelamu?”
Samar – samar aku ingat kembali. Iya benar. Sepertinya kemarin laki – laki ini juga datang dan mengaku dirinya malam.
“Kamu cantik. Kemarin ketika aku sedang berkeliling, mataku menangkap dirimu dibalik jendela ini. Aku jatuh hati. Bahkan aku tidak bisa menahan keinginanku untuk bersama kamu.”
Aku mencoba mengingat. Ya, aku ingat. Kemarin tanpa disengaja malam mengintip lewat jendela kamarku. Aku melihatnya. Mata kami bertatapan. Dingin. Tatapannya sedingin es. Kesan pertamaku saat bertemunya adalah dia begitu kelam dan misterius seolah tidak dapat dijangkau.
Kesan pertama itu hilang ketika dia tersenyum. Malam tersenyum memandangku hangat. Kesan misteriusnya hilang seketika itu juga.
“Siapa kamu?”
“Aku Malam.”
Aku hanya diam. Kebingungan. Yang kulihat hanya sesosok laki – laki dewasa dengan rambut sehitam jelaga.
Sekarang malam datang lagi. Memelukku dengan pelukan dinginnya. Aku tidak keberatan dengan pelukannya. Tetap saja terasa nyaman. Sebenarnya tanpa Malam sadari, aku sudah jatuh cinta padanya. Senyumannya yang terasa hangat walaupun tubuhnya yang dingin. Dan terkadang bintang – bintang beterbangan di sekelilingnya.
“Lantas, kenapa kemarin kamu pergi?”, aku bertanya lagi. Linglung.
“Karena pagi datang, sayang. Bukankah kemarin ketika matahari perlahan – lahan datang aku mengecupmu dan pergi? Aku harus pergi, karena pagi menjemput.”
Aku mulai ingat sepenuhnya sekarang. Ternyata yang mengecupku itu Malam. Kecupannya lebih dingin dari pelukannya. Tetapi kecupannya membuatku merasa berharga.
“Aku mencintaimu.”, Malam berbisik.
Aku hanya tersenyum. Tanpa disadari aku tertidur di pelukannya. Mimpi indah tentunya.
Keesokan paginya, yang kudapati hanya sepucuk surat di meja sebelah tempat tidurku.
Sayang, aku pergi. Pagi sudah datang. Aku janji nanti malam aku datang. Tunggu aku.
Aku menunggunya. Seharian ini kupersiapkan segalanya untuk malam hari ketika Malam akan datang. Ketika langit mulai gelap, aku berdiri di tepi jendela. Menunggunya. Pujaan hatiku.
Dia datang. Aku tersenyum. Segera aku memeluknya. Dia mencium keningku.
“Aku pulang.”, katanya di telingaku.
Dia mencium bibirku. Kedua tangannya dilingkarkan di pinggangku begitu erat. Dia tidak tahu tangan kananku memegang sesuatu.
Malam tidak merasakan sesuatu yang aneh. Aku segera menariknya ke dalam pelukanku. Dingin. Tangannya diangkat ke pipiku. Perlahan dia menyapukan bibirnya padaku. Sambil berciuman dengannya, tangan kananku ku keluarkan dari balik pinggang. Kuhunus benda tajam itu ke dadanya. Dia melolong kesakitan.
“Maafkan aku. Aku tidak bisa setiap hari menunggumu di tepi jendela.”

Malam itu kubunuh Malam.
ada kalanya seorang pujangga ingin menggambar aksara di atas kertas tapi buta harus mengggoreskan apa karena dirinya sendiri tidak tahu apa perasaanya detik ini.


(tapi, setelah dipikir - pikir bukankah kalimat di atas menggambarkan buah pikiran pujangga?)
.
.
m e b i n g u n g k a n.

01.04.16

cinta itu : hujan, merah, jakarta selata, pintu putih, indomie goreng, malam, macet, dan ...


kamu.

maaf

sudah lama saya tidak 'mengetik' ya. jadi saya akan ceritakan.
begini, 2  hari yang lalu saya berenang dengan adik laki - laki saya. entah mengapa saya berenang dengan gaya yag aneh. sehingga akhirnya pinggang saya sakit keesokan harinya.
kemudian, ketika malam semakin datang, sakit itu semakin mencekam.
lama - kelamaan saya tidak bisa berdiri dan duduk. tiduran pun sakit.
katanya ibu pijet saya, tulang atau otot di rusuk saya 'mendem' bisa juga disebut bergeser atau berpindah ke tempat yang tidak semestinya.
benar - benar deh.
menulis cerita ini saja saya sambil meringis kesakitan. tidak tahu harus menulis apa (eh ini kan tulisan)
ya, jadi saya butuh waktu.
saya akan kembali. tenang saja. saya akan kembali,
.
.
.
.
kayaknya.

Monday, April 25, 2016

"Sayang, bikinin puisi dong"

Sempurna
Karya: V

Kamu?
Mengapa kamu disini?
Untuk selamanya.

Kebahagiaan memelukku
Ketika kamu memelukku
Tanpa kusadari...
Sosok kamu, menyempurnakan aku

Bila menghilang..
Tanpa rasa, ku hidup
Kosong menjajah duniaku

Tetaplah bersamaku hon..



Monday, April 18, 2016

yang (tidak) ingin pergi di sudut itu

sudut itu menjadi bukti bahwa kenangan pernah ada. dia menjadi tempat kami bersembunyi dari dunia. nyaman dan penuh kerahasiaan ketika berada di sudut itu. aku selalu berjanji bertemu dengannya di sudut itu. dia menerima kami dengan tangan terbuka. tanpa menghakimi siapa dan apa kami. sudut itu menyediakan tempat kami berteduh dari teriknya cahaya dan kelunya malam.
di sudut itu, kami melakukan banyak hal. tanpa seorang pun tahu. sudut itu melindungi kami.
.
.
.
tapi, ketika hari ini aku datang kembai ke sudut itu, dia tidak ada. sebenarnya sudah sejak lama dia pergi meninggalkanku sendirian di sudut itu. aku hanya ingin memastikan mungkingkah dia menungguku di sudut itu?

tidak. dia tidak pernah datang.

kata sudut itu berbisik, tidak ingin menyakitiku.
lalu aku meratapi dan menangis dilihat sudut itu yang menatapkan butalanya penuh kesedihan.

seminggu

senin adalah hari paling tidak menyenangkan. tapi dengan namanya itu, aku tetap diam di tempat. 

selasa adalah hari yang kurang menyenangkan tapi dengan namanya itu, aku siap melangkahkan kaki.

rabu adalah hari yang sungguh biasa. tapi dengan namanya itu, aku mulai sanggup berjalan.

kamis adalah hari yang lumayan menyenangkan. tapi dengan namanya itu, aku mampu berjalan cepat.

jumat adalah hari yang menyenangkan. tapi dengan namanya itu, aku semakin berlari.

sabtu adalah hari yang paling menyenangkan. tapi dengan namanya itu, aku bisa terbang.

minggu adalah hari yang terburuk, karena namanya hilang hari itu dan aku terjatuh.

Tuesday, April 12, 2016

sudah hampir empat tahun

Sudah hampir empat tahun sejak juli 2012. Ketika aku mencari sesuatu ternyata menemukan sesuatu yang sama sekali tidak ingin diingat lagi. Tentang satu orang yang seharusnya tidak pernah dan tidak boleh ada di hati. Tapi nyatanya pernah.

dimulai dari cerita paling klise di bumi ini tentang senior dan junior di masa mos SMA. Yang membuatnya berbeda adalah senior itu bukan org biasa. Dia adalah ya sebut saja orang pilihan. Dan dia terpilih untuk hal - hal besar. Bersamaku tidak termasuk di dalam hal - hal besarnya. Jadi aku harus pergi dari hidupnya.

Andaikan semudah itu, mungkin kami tidak akan se terluka itu. banyak torehan tulisan. Tangis yang tersembunyi di balik kalimat. Luka dan sedih yang tak kunjung membaik.

Hari ini memorinya kembali lagi dan aku tidak ingin mengingatnya. Terlalu sulit untuk diberikan kepada hati untuk merasa.

Tapi keputusan saya benar kan, frater? Jika empat tahun lalu mengikuti hati saya, hari ini saya tidak akan bisa memanggil anda frater. Terima kasih untuk pelepasannya. Saya percaya anda baik baik saja disana dan berhasil menjadi orang yang melakukan hal hal besar.



[21:37]

Friday, April 8, 2016

ada yang tersembunyi..

ada yang tersembunyi di balik panjangnya lorong putih
ada yang tersembunyi di atas putihnya ranjang rumah sakit
ada yang tersembunyi di antara jarum jarum suntik
ada yang tersembunyi di sekitar bau obat


ada aku yang di sampingmu menaruh kepala di dadamu sembari tanganmu merangkul erat tubuhku lalu romansa beterbangan di langit langit


[Ku persembahkan untuk lelaki yang menjadi teman, sahabat, dan seseorang istimewa. ku harap kamu bisa cepat keluar dari rumah sakit]


Monday, April 4, 2016

daripada berhenti mencinta, bukannya lebih baik tetap mencinta?

00.01 dan seterusnya, ketika terang masih terlelap

00.01 waktu yang indah untuk merenung

Merenung dalam berhentinya waktu dan syahdu

Karena semesta sudah terlalu lelah untuk bersua

Jadi biarkan keheningan merasuk membisik dan meneriakkan kata kata yang hanya ada dalam diam

Tentang segala nestapa di gejolak gejolak garis yang naik dan turun

Tentang pertemuan antara gelap dan gelap yang nantinya berujung pagi



Di hari lewat pukul 12 ini

Ada cerita tentang iri yang tak pernah berhenti

Di hari lewat pukul 12 ini

Ada sedu sedan yang berbisik

Di hari lewat pukul 12 ini

Ada tambatan yang ingin diisyaratkan oleh hati  kepada sukma di sebrang sana

Dan di hari lewat pukul 12 malam ini

Ada sesosok yang menanti



Ada apa dengan keluhan di hari lewat pukul 12 ini? entahlah



perlu jawaban kah?

tidak karena pertanyaannya selalu sama



Atau hanya perlu diam?

rasanya...iya





(pada akhirnya rampung pukul 00:09 | dihari ketika 4 secepat kilat berubah jadi 5, bulan keempat, dua kosong enam belas)

Thursday, March 31, 2016

almond dan roti

aku tidak suka makan almond dengan roti. Rasanya aneh di lidahku. aku lebih baik memakan almond itu duluan kemudian baru roti. Rasanya lebih bersahabat di lidahku.
Mungkin seperti itulah kita
Aku adalah almond disaat kamu jadi rotinya
Ada waktu dimana kita yang bersama akan membuat semuanya menjadi tidak enak. Dan lebih baik kita berpisah jalan. Aku adalah aku di jalan aku dan kamu adalah kamu di jalan kamu.
Ketika memakasa bersama, sama saja seperti memakan almond dan roti bersamaan. Entah disengaja atau tidak. Rasanya pahit. Untukku.
.
.
Aku tidak suka.

Monday, March 28, 2016

"aku hampir saja kehilangan kebahagiaanku"

menatap dengan kedalaman hitamnya matamu, aku serasa tercekik, seluruh tubuhku merapuh seiring dengannya genggaman tanganmu yang perlahan - lahan meregang. laki - laki itu bergerak seumpama dia akan keluar dari hidupku.
"jangan pergi." mohonku perlahahan.
suaraku bertambah keras dan terdengar aneh
"jangan. pergi. aku mohon."
dia hanya menatapku. cinta yang selama ini kulihat di matanya sekarang hanyalah kekosongan.
hatiku menjerit.

***
perempuan yang aku cintai ini. yang tadinya tidak akan kucintai dan aku tidak tahu apakah tetap mencintainya atau tidak, menatapku. wajahnya begitu sedih.
akhirnya aku sampai di titik dimana aku ingin berhenti mencintainya. rasanya aku lelah sekali mendengar omongannya. aku ingin dia merasakan apa yang selama ini kurasakan ketika dia selalu mengatakan dia ingin berhenti mencintaiku, ingin pergi keluar dari hidupku.
tiba - tiba dia menangis.

***
aku menangis melihat betapa keras raut wajahnya. Untuk kali ini aku yakin mohonku sudah tidak cukup lagi. Aku menunduk dan membiarkan tangisku menyeruak.

***
Aku berhenti bergerak. sudah salah langkah rupanya diriku ini. melihat dia. wanita yang kucintai menangis. menangis karena diriku pula! aku tersadar. segera aku memeluknya. memohon ampun untuk kataku yang gegabah. Ku bisikkan kata kata itu di telinganya.

***
sambil menunduk aku tak tahu dia malah memelukku. Aku dengar dia berkata.

***
maafkan aku. aku hampir saja kehilangan kebahagiaanku.

Monday, March 21, 2016

(special) surealisme idiosinkritis

aku berdiri disini, mempertanyakan semesta. dua puluh tahun dalam hidup dan aku merasakan hal 'itu'. ketika langit dan bumi seolah - olah menenekanku di satu titik yang menyesakkan. sampai benar - benar sesak rasanya dada ini. di saat air mata sudah tidak lagi menjadi air melainkan darah. aliran menetes perlahan dan sesuai ritmenya bak sungai di musim penghujan, tak berhenti  ber
sinkron dengan apa yang seharusnya ada.

aku mencari disini. segala pertanyaan yang berikhtiar menguak jawaban. barangkali itu pertanyaan yang sesungguhnya atau pertanyaan yang berselimut menjadi sebuah pernyataan. entahlah. keduanya diperbolehkan. asalkan bertujuan untuk menjadi hasil pencarianku. aku mengembara dengan kedua langkah kaki kecilku, mencari tanya dan jawabannya. lelah sekali.

aku bersedih disini. segalanya menjadi sangat hitam dan kelam. rasanya kalau - kalau memang cahaya itu ada, kemungkinan besar hanya kebohongan belaka yang tidak rasional serta tidak mampu dipertanyakan akal. jadi aku menunduk di atas tanah, meratapi nasibku. membiarkan tetesan air mata jatuh untuk menyenangkan bumi yang sembari tertawa menang menangkup air mataku. aku biarkan.

aku hancur disini. kepingan demi kepingan diriku mulai memecah menjadi butiran butiran kecil kecil. tak sanggup lagi menggapai sampai mulai terangkat. cepat dan ringan melayang menjauhi gravitasi bumi, langit menangkapku. memecahkan pecahan kecilku menjadi pecahan yang lebih kecil lagi. anaknya, si angin membantu ayahnya menerbangkan intisari diriku. langit tertawa terbahak bahak. aku biarkan.

jadi, apa aku ini sekarang?
.
.
.
ya... bukan apa apa. kamu bukan apa dan siapa. kamu hanya kamu tak ada.

mempertanyakan kembali

mulai mencari makna dibalik aksara yang menoreh.
apa harus menjadi rutinitas dan formalitas?
ada saatnya naik dan turun bukan? jadi tak apa? benarkah?
.

.

.
tetapi, mengapa begitu kosong?

Wednesday, March 16, 2016

bukan inspirasi yang tepat. rasanya.

kehilangan orientasi dengan tulisan sendiri.
Entahlah.
Terkadang terlalu bahagia bukan inspirasi yang tepat dalam memadukan kata.
Tapi ada satu inspirasi dari 'terlalu bahagia' ini
.
.
.
ketakutan bahwa terlalu bahagia bisa berakhir menjadi terlalu sedih?

Monday, March 14, 2016

re: sudah lama tidak menulis

menceritakan apa ya? Apa kah? Apa pula? Apa itu? Apa bagaimana?
Menceritakan tentang kisah yang berisikan cinta.
Dia datang berjalan ke arahku. Masuk ke dalam mobilku dan mobilku menghangat karena dia matahari ku.
Matahariku makan babi bersamaku.
Matahariku menarikku ke lubang hitam.
Matahariku membawa aku berjalan semakin jauh.
Matahariku menangis.
Matahariku berhenti.
Giliran aku yang menangis.
Sambil tertawa. Tersenyum. Tapi menangis dalam hati.
aku mencintai matahariku sampai aku rela memohonnya untuk tidak pergi.
Malam datang, logikanya matahari akan pergi. tepat sekali. Dia pergi kembali ke tempatnya.
Kehangatannya hilang. Aku kedinginan lagi.

Monday, March 7, 2016

manusia harus pergi tetapi mungkin saja kembali

dia manis sekali. Memakai rompi quirky dengan bando merah untuk menahan poninya. Celana jeans hitam dan sepatu vans hitamnya membuatnya terlihat lebih tampan. Tapi yang pasti. Dia milikku.

Theater kecil - Taman Ismail Marzuki menjadi saksi kelucuan kami. Kursi penonton bagian kanan belakang menjadi tempat kami berdiri memainkan kaki dan bersenda gurau. Pelukan tubuh hangatnya dan ciuman di keningku menjadi bukti otentik romansa kami.
Dinding theater yang kelam dan kursi kursi merah menjadi saksi bisu cinta kami. Sementara penonton lain hanyalah figuran dalam dunia kami yang sempurna untukku.
bahkan berdiri selama apapun asalkan dengannya aku tidak letih. Kakiku sanggup menopang lelahnya tubuhku hanya untuk bersamanya.
Sayang waktu harus terus berjalan tanpa menggubris isakan kecil dari lubuk hatiku. dia harus pergi. Sedikit jauh tapi tidak berbeda pulau. Katanya dia akan pergi sebentar dan dia memintaku bersabar sedikit.
"Ini hanya 3 hari. Bukan 3 minggu. 3 bulan atau bahkan 3 tahun."
Aku menangis kecil.
"Aku akan kembali. Aku serius"
Kepalaku mengangguk perlahan. Tidak yakin dengan diri sendiri.
Dia memeluk tubuhku lagi.
acara berakhir dan aku melompat padanya. Berbangga hati memilkinya.
Kemudian dia menggengam tanganku dan berjalan seiring dengan tangisku dalam hati yang semakin keras. Dia masuk ke dalam mobilnya. Air mataku kutahan. Dia meminjamkan pik gitarnya.
"Ini. Pik yang aku pakai tadi. Simpan. Aku akan mengambilnya kembali"
Dia menaruh pik itu di tanganku. Kugenggam erat.
Dia pergi perlahan
Aku berbalik dan menangis.

Sunday, March 6, 2016

cepat pulang ya

Dia pergi. Memang akan kembali. Tapi.. aku begitu merindunya.
Apakah kamu tahu ketika setiap jam, hari, dan bulan kamu selalu berbicara dengan orang itu. Tidak pernah luput sehari pun. Tiba tiba dia pergi. 
Pasti akan merindu kan?
Rasanya sepi sekali
Cepat pulang ya, kamu
Aku janji akan tetap menunggumu disini dan aku tau kamu akan kembali, kan?
aku katakan namamu di dalam setiap doaku agar semesta melindungimu, sayang.
dari aku, yang rindunya tak mencukupi hati.

Thursday, March 3, 2016

aku ingin ramaiku: kamu

sunyi.
aku hanya ingin pergi
ke tempat tersunyi yang ada

dia datang memaksaku
mencari satu keramaian dalam sejuta sepi

ah sudahlah, lebih baik diam
tenang dan sepi.
sempurna.

tetapi karena aku mencintainya
aku tahu dimana mencari keramaian untuk pergi dari duniaku yang bisa
kamu.

sepi (adaptasi dari puisi 'aku ingin ramiku: kamu)

Apa yang paling indah dibandingkan dengan sepi? Bukankah sepi adalah jalan keluar terbaik? Mengapa harus benci sepi? Kamu akan menemukan hal – hal indah di sepimu itu.
Ketika aku berdiri disini, semua terasa baik – baik saja. Aku senang sepi ini. Tidak ada yang lebih indah dibandingkan sepi. Sepi itu menyenangkan. Tidak ada yang salah dari sepi. Buktinya ketika aku diam dan menyepi dunia menjadi lebih normal. Tidak absurd seperti ketika semua orang berteriak dan membuat kebisingan. Aku tidak suka berisik. Tak akan ada hal indah yang muncul ketika begitu banyak bunyi melayang di udara. Aku benci. Sebenarnya benci itu berubah seiring dengan pertemuanku dengannya.
Dia cantik. Tentu saja. Kulitnya putih dan bibirnya semerah dara. Dia cantik. Sungguh. Seraffine. Nama yang sempurna untuk seorang jelita seperti dia.
“Kenapa kamu benci ramai?”, tanyanya suatu hari.
“Karena sepi menyenangkan tentu saja.”
“Apa yang menyenangkan dari diam? Tentu saja tak ada.”
“Ada. Kalau kamu mau membuka hati, mata, juga telingamu.”
“Mengapa harus diam ketika kita bisa memilih untuk untuk tidak diam?”
Aku marah.
“Jangan marah.”, katanya lembut
Semua yang aku tahu adalah sepi. Sepi itu sudah menjadi penunjuk jalanku sejak dulu. Sepi itu tak pernah salah. Aku akan baik- baik saja bersama sepiku. Tidak ada yang lebih kubutuhkan dibandingkan sepiku. Mengapa kau gadis membiarkan hatiku terombang – ambing seperti ini? Mengapa kau yakinkan aku bahwa yang benar adalah ramai? Aku tahu kamu yang salah, aku yang benar. Berhenti. Tolong.
“Apa yang kau suka dari sepimu?”
“Semuanya.”
“Bagaimana denganku?”
“Aku mencintaimu.”, sungguhku.
Aku benci ramai. Aku tidak pernah suka ramai. Kebisingan membuat otakku serasa mau pecah. Apa yang salah denganku. Jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam sebenarnya aku tahu bahwa aku bukan benci ramai. Aku hanya tidak mau mengakui keberadaanya. Aku hanya ingin berhenti menjadi sepi. Selama ini aku membiarkan sepi itu hadir. Ada dan bereksistensi di dalam diriku. Tidak ada yang salah dari keramaian. Yang salah bukan ramai tapi sepi. Sepi yang harus disalahkan.
Bukan.
Aku yang membiarkan sepi itu. Aku yang salah.
Kemudian gadis manis bibir merah dara itu tersenyum. Membuka mulutnya dan berkata,
“Aku akan jadi ramaimu.”


***

menunggu (puisi)

semuanya sudah berakhir
ya. aku tahu
otakku tidak berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya
kakiku tak mau melangkah
pagi sudah memanggil

rasanya sepi mereka tidak ada
waktunya sudah dan selesai
alasan mereka pergi juga jelas
bukan kehendak melainkan kewajiban

dasar manusia egois
teriakku di depan cermin
sudah terlalu terlambat
jangan berharap lagi
semuanya sudah usai
yang belum selesai adalah kenanganmu dengannya
hatimu tidak mau meninggalkannya

aku janji
hari ini aku akan menunggunya
walaupun harapannya hanya setitik saja
aku akan tetap menunggu
jika dia tidak datang



mungkin memang sudah waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal

menunggu (cerita pendek)

Karena kadang kita harus memutuskan untuk berhenti menunggu.
Kenapa waktu berjalan begitu lambat? Mungkin untuk keseratus kalinya Ariana melihat jam yang terlingkar di pergelangan tangan kirinya. Di tempat yang dia duduki sekarang adalah tempat dimana berjuta – juta manusia datang dan pergi. Bertemu dan berpisah. Menangis dan tertawa.
Ia sudah melihat ratusan orang hilir mudik depanku. Tapi tidak ada dia. Dia yang selama ini aku tunggu. Bahkan batang hidungnya pun tidak muncul.
Laki – laki itu berjanji akan menemuinya. Dia bersumpah. Ariana mengira janji itu dapat tercapai untuk terakhir kalinya. Namun realitas mengatakan lain.
Kembali matanya berputar ke arah jam tangan hitamnya. Rasanya jam itu dapat meledak dalam waktu dekat karena dipandangi  setiap detik. Air mata yang ditahannya selama 2 jam ini akhirnya menetes di jam kesayangannya itu.
Untuk pertama kalinya, Ariana merasa waktu sedang mengejeknya. Iya benar. Waktu sedang bermain dengan dirinya. Saat ini waktu pasti tertawa puas melihat Ariana menangis.
Segera dia hapuskan pikiran itu sambil menghapus sisa air mata dengan punggung tangan. Kemudian Ariana mengambil bawaan dan mengangkat diri dari posisi duduk. Kertas bersisikin jadwal penerbangan diremukkannya. Kemudian kertas itu ia taruh di tempat duduk dimana seharusnya menjadi tempat dirinya dan laki – laki itu akan bertemu.
Perasaan lega sekaligus bangga merasuk kehati Ariana. Waktu berhenti tertawa. Dia kembali berjalan. Ia arahkan pandangannya untuk terakhir kalinya ke jam yang sedari tadi dia pelototi.
“Ternyata benar, waktu bergerak kembali.” Katanya lebih pada diri sendiri.
Lalu Ariana berjalan bersama jalannya waktu, berhenti menunggu, dan mencari waktu lain yang berjalan.

***


ketika

ketika melihatmu tersenyum kala itu
aku tahu kamulah jawaban yang selama ini aku cari
ketika merasakan genggaman hangat jemarimu waktu itu
aku tahu duniaku kini utuh seperti sedia kala
ketika mencium aroma tubuhmu saat kamu memelukku hari itu
aku tahu kelak kamulah yang akan menjadi rumah tempat aku pulang

kala
waktu
dan hari itu
ketika hangatnya kamu dan senyumanmu
ketika aku merasakan eratnya genggaman tanganmu
ketika aroma tubuhmu tercium ketika kamu memelukku

aku mengerti

kamulah jawaban untuk mengembalikan duniaku yang tak utuh ketika aku butuh tempat untuk pulang

ketika jemari dan hati bertautan (adaptasi dari puisi 'ketika')

Jemariku menggigil terkena realita. Aku sendiri. Mencaci hati. Sampai semilir rasa hangat meraih tanganku. Ketika jemarimu mencari tanganku. Ku buka dan rasakan kehangatan menjalar sampai ke hatiku.
Aku mengenalmu kala itu. Ketika untuk pertama kalinya kamu tersenyum. Aku mengutuk diriku dalam diri. Mengapa lagi – lagi aku luluh oleh senyumanmu. Kala itu, kamu masih menjadi sesosok yang hanya dapat kupandangi sebatas punggungnya saja. Yang aku bisa hanyalah berdiri di pojok yang terpojok, mencari lewat mataku, sekedar untuk dapat menatapmu. Dan kala itu, kita bukan siapa atau apa. Tidak ada ikatan. Tidak ada apapun. Aku adalah aku dan kamu adalah kamu.
Waktu itu, aku akhirnya memberanikan diri mengajakmu berkenalan. Berat sekali rasanya membuka mulutku untuk mengucapkan sebuah kata sederhana berbentuk ‘hai’. Sepertinya kamu tahu aku salah tingkah karena kamu tertawa sembari melihat pipiku tersemu merah. Entah apa yang merasukiku hari itu. Aku berkenalan denganmu. Benar – benar berkenalan tidak lagi menatapnya dari jauh.
Ternyata ketakutanku selama ini terbukti benar – benar bodoh. Kamu begitu baik dan perhatian padaku. Aku semakin jatuh hati padamu. Hari berganti hari. Aku semakin mengenal dirimu dan membuatku semakin jatuh lebih dalam. Senyummu adalah jawaban yang selama ini aku cari.
Suatu hari di bulan Mei, aku menyadari suatu hal. Hal paling sederhana sekalipun menjadi sesuatu yang mengaggumkan ketika manusia jatuh cinta. Hari itu, kita berdua sedang berjalan. Tiba – tiba aku merasakan rasa yang hangat di tangan kananku. Ketika kulihat, ternyata tanganmu sedang menggenggam jemariku. Hangat. Jatungku melompat – lompat. Ketika kamu menggenggam jemariku hari itu, aku tahu duniaku kini menjadi utuh.
Hal mengejutkan terjadi lagi di bulan September. Saat itu, aku sedang membisikan sesuatu di telingamu. Kamu tertawa mendengar candaku. Lalu kamu menggenggam tanganku. Ketika sampai di muka rumahku. Aku mengucapkan salam jumpa. Sebelum aku sempat berbalik ke arah pintu rumahku, kamu menarik lenganku dan memelukku cepat. Pelukan yang erat itu menyadarkanku satu hal. Pelukanmu adalah tempat paling nyaman. Sejak saat itu aku tahu, aku punya tempat untuk pulang.
Kala, waktu, hari, dan saat itu. Ketika aku melihat senyumanmu, ketika aku mengajakmu berkenalan, ketika aku merasakan hangatnya jemari tanganmu, dan ketika kamu memelukku di muka rumahku, aku mengerti bahwa kamulah jawaban untuk membuat duniaku utuh ketika aku butuh tempat untuk pulang.


***

kebersamaan tidak ingin dipilih

kebersamaan itu fana
munafik
aneh
bercela
meremukkan

tapi, mengapa?
mengapa aku ingin meraih kebersamaan itu?

hatiku memang brengsek
padahal otak sudah merengsek
kebersamaan hanya sekedar tetek bengek
realitasnya merengek

bolehkan kalau kuminta kita bersama?

tidak. jawab otak

iya. kata hati

bagaimana memiliki kebersamaan?
kebersamaan tidak ingin dipilih.

tentang puisi yang dituliskan kembali

berawal dari apa saya tahu mengenai sesuatu yang tidak abadi, maka saya memutuskan untuk memperlihatkan puisi saya yang sederhana ini melalui ketikan laptop. saya tahu menulis di kertas memang lebih menyenangkan dibandingkan mengetik seperti ini. tapi apa daya kalau suatu hal terjadi (buku puisi yang basah misalnya, atau selalu hilang begitu)
untuk itu, saya akan 'menulis' di blog ini. ya... bukan berarti blog ini abadi.
kan sudah saya bilang tidak ada yang abadi.

Monday, February 29, 2016

teh tawar bisa menjadi manis jika bersamamu

aku bersamanya kemarin. seperempat hari lewat sedikit jam tepatnya. hujan masih berderas di luar sana, dan aku tidak merasakan kedinginan. bersamanya membuat semua terasa lebih hangat.
aku melangkahkan kakiku keluar. duduk di sebuah kursi kayu, membawa teh tawar hangat, memandang hujan turun perlahan. dia menyusulku keluar.
"ada apa?"tanyanya lembut.
"hanya menikmati hujan dan secangkir teh hangat."
"baiklah, aku akan menemanimu."
lima menit pertama, kami hanya terdiam. sibuk dengan pikiran masing - masing.
aku menyesap tehku perlahan dan menggenggam tangannya. hangat.
kami mengobrol tentang masa depan, sesuatu yang indah - indah. tentang mimpi dan segala hal yang menyenangkan, membuat rasa di dadaku menghangat walaupun hujan semakin dingin.
"ayo kembali kedalam.", ajakku sambil menarik lengannya.
dia tertawa menuntunku masuk. aku berhenti dan berkata padanya.
"kamu tahu? hari ini teh yang tawar sekalipun terasa manis karena aku bersamamu, dek."
dia tertawa.

Sunday, February 28, 2016

"tapi bukan berarti tetap hidup di bayang - bayang masa lalu, kan?"
.
.
.
tapi.. tapi saya masih ingin disana.
saat ini tidak semenyenangkan apa yang saya pikirkan tiga tahun yang lalu.

02:47

Ketika hari sudah semakin petang. Aku hanya ingat kamu dan cuma kamu. Yang kuinginkan adalah kamu.
Aku baru saja mematikan hubungan denganmu. Secara seluler. 10 detik yang lalu kamu mengucapkan “selamat pagi, sayang” padaku. Ya. Hari sudah terlalu pagi untuk mengucapkan kata malam. Ketika memori itu kembali menyerang pikiran dan hatiku, lengkungan bak pelangi langsung menghiasai wajahku yang tertutup gelapnya kamar.
Seharian kemarin aku bersama dengannya. Aku ingat bagaimana ia tersenyum padaku ketika mendatangi aku dengan vespa merahnya. Dia tahu aku menunggunya lama. Karena wajahku terlihat sangat jengkel. Tapi, dia tetap tersenyum dan menyuruhku naik di belakang vespanya. Jujur saja, aku kesal, dia selalu terlambat menjemputku. Dan bodohnya lagi, aku tetap menunggunya. Mengedarkan pandanganku tiap detiknya untuk mencari vespa berwarna merah.
Setelah itu, dia menancap gas vespanya. Semilir angin menyapu wajahku. Sudah terasa lebih menyenangkan dengan dinginnya hari dan punggungnya yang terlihat nyaman. Spontan, ku lingkarkan tanganku di perutnya. Dia tidak memprotes karena dia membiarkan aku memeluknya dari belakang. Ah, aku bahagia.
Kemudian ketika sampai, dia memiringkan vespanya agar aku mudah untuk berpijak kembali ke tanah. Perhatian sekali bukan? Dia tahu tubuhku pendek.
Aku masuk kerumahnya dan segera duduk. Hal itu sudah menjadi rutinitasku, masuk lewat pintu, memberi salam, dan segera menaruh diriku di sofa ruang tamunya. Dia mengambilkan aku minum, mencium dahiku.
Lalu dia duduk disampingku. Memperbolehkan aku bermanja – manja dengannya. Dia memelukku dari belakang dan membisikan di telinga kananku.
“Kamu tahu sesuatu?”
“Apa?”
“Aku jatuh cinta padamu.”
Aku tersipu malu. Kemudian aku hanya bisa memeluknya. Erat sekali sampai dia memintaku berhenti karena dirinya kesusahan bernafas. Aku tertawa riang.
Ketika aku tertawa, dia merasa tersinggung. Segera dia mendorong aku. Setelah itu yang aku ingat adalah kecupannya yang sangat hangat di bibirku.
Ingatanku kembali ketika aku mendengar suara jam yang berbunyi tiga kali. Rupanya lamunan ingatanku sudah berlangsung kurang lebih selama 13 menit. Aku memutuskan untuk mengakhiri hari. Aku berjanji ketika bangun nanti aku akan kembali membiarkan pikiranku terbang mengingat kembali dirinya.
Tepat saat aku memasukan tubuhku di dalam selimut. Telpon selulerku berbunyi. Segera ku baca nama di atas layarku. Jariku menekan tombol angkat.
“Aku rindu.”

Bisiknya dari seberang sana.

yang berubah dan tetap

banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...