Thursday, March 31, 2016

almond dan roti

aku tidak suka makan almond dengan roti. Rasanya aneh di lidahku. aku lebih baik memakan almond itu duluan kemudian baru roti. Rasanya lebih bersahabat di lidahku.
Mungkin seperti itulah kita
Aku adalah almond disaat kamu jadi rotinya
Ada waktu dimana kita yang bersama akan membuat semuanya menjadi tidak enak. Dan lebih baik kita berpisah jalan. Aku adalah aku di jalan aku dan kamu adalah kamu di jalan kamu.
Ketika memakasa bersama, sama saja seperti memakan almond dan roti bersamaan. Entah disengaja atau tidak. Rasanya pahit. Untukku.
.
.
Aku tidak suka.

Monday, March 28, 2016

"aku hampir saja kehilangan kebahagiaanku"

menatap dengan kedalaman hitamnya matamu, aku serasa tercekik, seluruh tubuhku merapuh seiring dengannya genggaman tanganmu yang perlahan - lahan meregang. laki - laki itu bergerak seumpama dia akan keluar dari hidupku.
"jangan pergi." mohonku perlahahan.
suaraku bertambah keras dan terdengar aneh
"jangan. pergi. aku mohon."
dia hanya menatapku. cinta yang selama ini kulihat di matanya sekarang hanyalah kekosongan.
hatiku menjerit.

***
perempuan yang aku cintai ini. yang tadinya tidak akan kucintai dan aku tidak tahu apakah tetap mencintainya atau tidak, menatapku. wajahnya begitu sedih.
akhirnya aku sampai di titik dimana aku ingin berhenti mencintainya. rasanya aku lelah sekali mendengar omongannya. aku ingin dia merasakan apa yang selama ini kurasakan ketika dia selalu mengatakan dia ingin berhenti mencintaiku, ingin pergi keluar dari hidupku.
tiba - tiba dia menangis.

***
aku menangis melihat betapa keras raut wajahnya. Untuk kali ini aku yakin mohonku sudah tidak cukup lagi. Aku menunduk dan membiarkan tangisku menyeruak.

***
Aku berhenti bergerak. sudah salah langkah rupanya diriku ini. melihat dia. wanita yang kucintai menangis. menangis karena diriku pula! aku tersadar. segera aku memeluknya. memohon ampun untuk kataku yang gegabah. Ku bisikkan kata kata itu di telinganya.

***
sambil menunduk aku tak tahu dia malah memelukku. Aku dengar dia berkata.

***
maafkan aku. aku hampir saja kehilangan kebahagiaanku.

Monday, March 21, 2016

(special) surealisme idiosinkritis

aku berdiri disini, mempertanyakan semesta. dua puluh tahun dalam hidup dan aku merasakan hal 'itu'. ketika langit dan bumi seolah - olah menenekanku di satu titik yang menyesakkan. sampai benar - benar sesak rasanya dada ini. di saat air mata sudah tidak lagi menjadi air melainkan darah. aliran menetes perlahan dan sesuai ritmenya bak sungai di musim penghujan, tak berhenti  ber
sinkron dengan apa yang seharusnya ada.

aku mencari disini. segala pertanyaan yang berikhtiar menguak jawaban. barangkali itu pertanyaan yang sesungguhnya atau pertanyaan yang berselimut menjadi sebuah pernyataan. entahlah. keduanya diperbolehkan. asalkan bertujuan untuk menjadi hasil pencarianku. aku mengembara dengan kedua langkah kaki kecilku, mencari tanya dan jawabannya. lelah sekali.

aku bersedih disini. segalanya menjadi sangat hitam dan kelam. rasanya kalau - kalau memang cahaya itu ada, kemungkinan besar hanya kebohongan belaka yang tidak rasional serta tidak mampu dipertanyakan akal. jadi aku menunduk di atas tanah, meratapi nasibku. membiarkan tetesan air mata jatuh untuk menyenangkan bumi yang sembari tertawa menang menangkup air mataku. aku biarkan.

aku hancur disini. kepingan demi kepingan diriku mulai memecah menjadi butiran butiran kecil kecil. tak sanggup lagi menggapai sampai mulai terangkat. cepat dan ringan melayang menjauhi gravitasi bumi, langit menangkapku. memecahkan pecahan kecilku menjadi pecahan yang lebih kecil lagi. anaknya, si angin membantu ayahnya menerbangkan intisari diriku. langit tertawa terbahak bahak. aku biarkan.

jadi, apa aku ini sekarang?
.
.
.
ya... bukan apa apa. kamu bukan apa dan siapa. kamu hanya kamu tak ada.

mempertanyakan kembali

mulai mencari makna dibalik aksara yang menoreh.
apa harus menjadi rutinitas dan formalitas?
ada saatnya naik dan turun bukan? jadi tak apa? benarkah?
.

.

.
tetapi, mengapa begitu kosong?

Wednesday, March 16, 2016

bukan inspirasi yang tepat. rasanya.

kehilangan orientasi dengan tulisan sendiri.
Entahlah.
Terkadang terlalu bahagia bukan inspirasi yang tepat dalam memadukan kata.
Tapi ada satu inspirasi dari 'terlalu bahagia' ini
.
.
.
ketakutan bahwa terlalu bahagia bisa berakhir menjadi terlalu sedih?

Monday, March 14, 2016

re: sudah lama tidak menulis

menceritakan apa ya? Apa kah? Apa pula? Apa itu? Apa bagaimana?
Menceritakan tentang kisah yang berisikan cinta.
Dia datang berjalan ke arahku. Masuk ke dalam mobilku dan mobilku menghangat karena dia matahari ku.
Matahariku makan babi bersamaku.
Matahariku menarikku ke lubang hitam.
Matahariku membawa aku berjalan semakin jauh.
Matahariku menangis.
Matahariku berhenti.
Giliran aku yang menangis.
Sambil tertawa. Tersenyum. Tapi menangis dalam hati.
aku mencintai matahariku sampai aku rela memohonnya untuk tidak pergi.
Malam datang, logikanya matahari akan pergi. tepat sekali. Dia pergi kembali ke tempatnya.
Kehangatannya hilang. Aku kedinginan lagi.

Monday, March 7, 2016

manusia harus pergi tetapi mungkin saja kembali

dia manis sekali. Memakai rompi quirky dengan bando merah untuk menahan poninya. Celana jeans hitam dan sepatu vans hitamnya membuatnya terlihat lebih tampan. Tapi yang pasti. Dia milikku.

Theater kecil - Taman Ismail Marzuki menjadi saksi kelucuan kami. Kursi penonton bagian kanan belakang menjadi tempat kami berdiri memainkan kaki dan bersenda gurau. Pelukan tubuh hangatnya dan ciuman di keningku menjadi bukti otentik romansa kami.
Dinding theater yang kelam dan kursi kursi merah menjadi saksi bisu cinta kami. Sementara penonton lain hanyalah figuran dalam dunia kami yang sempurna untukku.
bahkan berdiri selama apapun asalkan dengannya aku tidak letih. Kakiku sanggup menopang lelahnya tubuhku hanya untuk bersamanya.
Sayang waktu harus terus berjalan tanpa menggubris isakan kecil dari lubuk hatiku. dia harus pergi. Sedikit jauh tapi tidak berbeda pulau. Katanya dia akan pergi sebentar dan dia memintaku bersabar sedikit.
"Ini hanya 3 hari. Bukan 3 minggu. 3 bulan atau bahkan 3 tahun."
Aku menangis kecil.
"Aku akan kembali. Aku serius"
Kepalaku mengangguk perlahan. Tidak yakin dengan diri sendiri.
Dia memeluk tubuhku lagi.
acara berakhir dan aku melompat padanya. Berbangga hati memilkinya.
Kemudian dia menggengam tanganku dan berjalan seiring dengan tangisku dalam hati yang semakin keras. Dia masuk ke dalam mobilnya. Air mataku kutahan. Dia meminjamkan pik gitarnya.
"Ini. Pik yang aku pakai tadi. Simpan. Aku akan mengambilnya kembali"
Dia menaruh pik itu di tanganku. Kugenggam erat.
Dia pergi perlahan
Aku berbalik dan menangis.

Sunday, March 6, 2016

cepat pulang ya

Dia pergi. Memang akan kembali. Tapi.. aku begitu merindunya.
Apakah kamu tahu ketika setiap jam, hari, dan bulan kamu selalu berbicara dengan orang itu. Tidak pernah luput sehari pun. Tiba tiba dia pergi. 
Pasti akan merindu kan?
Rasanya sepi sekali
Cepat pulang ya, kamu
Aku janji akan tetap menunggumu disini dan aku tau kamu akan kembali, kan?
aku katakan namamu di dalam setiap doaku agar semesta melindungimu, sayang.
dari aku, yang rindunya tak mencukupi hati.

Thursday, March 3, 2016

aku ingin ramaiku: kamu

sunyi.
aku hanya ingin pergi
ke tempat tersunyi yang ada

dia datang memaksaku
mencari satu keramaian dalam sejuta sepi

ah sudahlah, lebih baik diam
tenang dan sepi.
sempurna.

tetapi karena aku mencintainya
aku tahu dimana mencari keramaian untuk pergi dari duniaku yang bisa
kamu.

sepi (adaptasi dari puisi 'aku ingin ramiku: kamu)

Apa yang paling indah dibandingkan dengan sepi? Bukankah sepi adalah jalan keluar terbaik? Mengapa harus benci sepi? Kamu akan menemukan hal – hal indah di sepimu itu.
Ketika aku berdiri disini, semua terasa baik – baik saja. Aku senang sepi ini. Tidak ada yang lebih indah dibandingkan sepi. Sepi itu menyenangkan. Tidak ada yang salah dari sepi. Buktinya ketika aku diam dan menyepi dunia menjadi lebih normal. Tidak absurd seperti ketika semua orang berteriak dan membuat kebisingan. Aku tidak suka berisik. Tak akan ada hal indah yang muncul ketika begitu banyak bunyi melayang di udara. Aku benci. Sebenarnya benci itu berubah seiring dengan pertemuanku dengannya.
Dia cantik. Tentu saja. Kulitnya putih dan bibirnya semerah dara. Dia cantik. Sungguh. Seraffine. Nama yang sempurna untuk seorang jelita seperti dia.
“Kenapa kamu benci ramai?”, tanyanya suatu hari.
“Karena sepi menyenangkan tentu saja.”
“Apa yang menyenangkan dari diam? Tentu saja tak ada.”
“Ada. Kalau kamu mau membuka hati, mata, juga telingamu.”
“Mengapa harus diam ketika kita bisa memilih untuk untuk tidak diam?”
Aku marah.
“Jangan marah.”, katanya lembut
Semua yang aku tahu adalah sepi. Sepi itu sudah menjadi penunjuk jalanku sejak dulu. Sepi itu tak pernah salah. Aku akan baik- baik saja bersama sepiku. Tidak ada yang lebih kubutuhkan dibandingkan sepiku. Mengapa kau gadis membiarkan hatiku terombang – ambing seperti ini? Mengapa kau yakinkan aku bahwa yang benar adalah ramai? Aku tahu kamu yang salah, aku yang benar. Berhenti. Tolong.
“Apa yang kau suka dari sepimu?”
“Semuanya.”
“Bagaimana denganku?”
“Aku mencintaimu.”, sungguhku.
Aku benci ramai. Aku tidak pernah suka ramai. Kebisingan membuat otakku serasa mau pecah. Apa yang salah denganku. Jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam sebenarnya aku tahu bahwa aku bukan benci ramai. Aku hanya tidak mau mengakui keberadaanya. Aku hanya ingin berhenti menjadi sepi. Selama ini aku membiarkan sepi itu hadir. Ada dan bereksistensi di dalam diriku. Tidak ada yang salah dari keramaian. Yang salah bukan ramai tapi sepi. Sepi yang harus disalahkan.
Bukan.
Aku yang membiarkan sepi itu. Aku yang salah.
Kemudian gadis manis bibir merah dara itu tersenyum. Membuka mulutnya dan berkata,
“Aku akan jadi ramaimu.”


***

menunggu (puisi)

semuanya sudah berakhir
ya. aku tahu
otakku tidak berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya
kakiku tak mau melangkah
pagi sudah memanggil

rasanya sepi mereka tidak ada
waktunya sudah dan selesai
alasan mereka pergi juga jelas
bukan kehendak melainkan kewajiban

dasar manusia egois
teriakku di depan cermin
sudah terlalu terlambat
jangan berharap lagi
semuanya sudah usai
yang belum selesai adalah kenanganmu dengannya
hatimu tidak mau meninggalkannya

aku janji
hari ini aku akan menunggunya
walaupun harapannya hanya setitik saja
aku akan tetap menunggu
jika dia tidak datang



mungkin memang sudah waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal

menunggu (cerita pendek)

Karena kadang kita harus memutuskan untuk berhenti menunggu.
Kenapa waktu berjalan begitu lambat? Mungkin untuk keseratus kalinya Ariana melihat jam yang terlingkar di pergelangan tangan kirinya. Di tempat yang dia duduki sekarang adalah tempat dimana berjuta – juta manusia datang dan pergi. Bertemu dan berpisah. Menangis dan tertawa.
Ia sudah melihat ratusan orang hilir mudik depanku. Tapi tidak ada dia. Dia yang selama ini aku tunggu. Bahkan batang hidungnya pun tidak muncul.
Laki – laki itu berjanji akan menemuinya. Dia bersumpah. Ariana mengira janji itu dapat tercapai untuk terakhir kalinya. Namun realitas mengatakan lain.
Kembali matanya berputar ke arah jam tangan hitamnya. Rasanya jam itu dapat meledak dalam waktu dekat karena dipandangi  setiap detik. Air mata yang ditahannya selama 2 jam ini akhirnya menetes di jam kesayangannya itu.
Untuk pertama kalinya, Ariana merasa waktu sedang mengejeknya. Iya benar. Waktu sedang bermain dengan dirinya. Saat ini waktu pasti tertawa puas melihat Ariana menangis.
Segera dia hapuskan pikiran itu sambil menghapus sisa air mata dengan punggung tangan. Kemudian Ariana mengambil bawaan dan mengangkat diri dari posisi duduk. Kertas bersisikin jadwal penerbangan diremukkannya. Kemudian kertas itu ia taruh di tempat duduk dimana seharusnya menjadi tempat dirinya dan laki – laki itu akan bertemu.
Perasaan lega sekaligus bangga merasuk kehati Ariana. Waktu berhenti tertawa. Dia kembali berjalan. Ia arahkan pandangannya untuk terakhir kalinya ke jam yang sedari tadi dia pelototi.
“Ternyata benar, waktu bergerak kembali.” Katanya lebih pada diri sendiri.
Lalu Ariana berjalan bersama jalannya waktu, berhenti menunggu, dan mencari waktu lain yang berjalan.

***


ketika

ketika melihatmu tersenyum kala itu
aku tahu kamulah jawaban yang selama ini aku cari
ketika merasakan genggaman hangat jemarimu waktu itu
aku tahu duniaku kini utuh seperti sedia kala
ketika mencium aroma tubuhmu saat kamu memelukku hari itu
aku tahu kelak kamulah yang akan menjadi rumah tempat aku pulang

kala
waktu
dan hari itu
ketika hangatnya kamu dan senyumanmu
ketika aku merasakan eratnya genggaman tanganmu
ketika aroma tubuhmu tercium ketika kamu memelukku

aku mengerti

kamulah jawaban untuk mengembalikan duniaku yang tak utuh ketika aku butuh tempat untuk pulang

ketika jemari dan hati bertautan (adaptasi dari puisi 'ketika')

Jemariku menggigil terkena realita. Aku sendiri. Mencaci hati. Sampai semilir rasa hangat meraih tanganku. Ketika jemarimu mencari tanganku. Ku buka dan rasakan kehangatan menjalar sampai ke hatiku.
Aku mengenalmu kala itu. Ketika untuk pertama kalinya kamu tersenyum. Aku mengutuk diriku dalam diri. Mengapa lagi – lagi aku luluh oleh senyumanmu. Kala itu, kamu masih menjadi sesosok yang hanya dapat kupandangi sebatas punggungnya saja. Yang aku bisa hanyalah berdiri di pojok yang terpojok, mencari lewat mataku, sekedar untuk dapat menatapmu. Dan kala itu, kita bukan siapa atau apa. Tidak ada ikatan. Tidak ada apapun. Aku adalah aku dan kamu adalah kamu.
Waktu itu, aku akhirnya memberanikan diri mengajakmu berkenalan. Berat sekali rasanya membuka mulutku untuk mengucapkan sebuah kata sederhana berbentuk ‘hai’. Sepertinya kamu tahu aku salah tingkah karena kamu tertawa sembari melihat pipiku tersemu merah. Entah apa yang merasukiku hari itu. Aku berkenalan denganmu. Benar – benar berkenalan tidak lagi menatapnya dari jauh.
Ternyata ketakutanku selama ini terbukti benar – benar bodoh. Kamu begitu baik dan perhatian padaku. Aku semakin jatuh hati padamu. Hari berganti hari. Aku semakin mengenal dirimu dan membuatku semakin jatuh lebih dalam. Senyummu adalah jawaban yang selama ini aku cari.
Suatu hari di bulan Mei, aku menyadari suatu hal. Hal paling sederhana sekalipun menjadi sesuatu yang mengaggumkan ketika manusia jatuh cinta. Hari itu, kita berdua sedang berjalan. Tiba – tiba aku merasakan rasa yang hangat di tangan kananku. Ketika kulihat, ternyata tanganmu sedang menggenggam jemariku. Hangat. Jatungku melompat – lompat. Ketika kamu menggenggam jemariku hari itu, aku tahu duniaku kini menjadi utuh.
Hal mengejutkan terjadi lagi di bulan September. Saat itu, aku sedang membisikan sesuatu di telingamu. Kamu tertawa mendengar candaku. Lalu kamu menggenggam tanganku. Ketika sampai di muka rumahku. Aku mengucapkan salam jumpa. Sebelum aku sempat berbalik ke arah pintu rumahku, kamu menarik lenganku dan memelukku cepat. Pelukan yang erat itu menyadarkanku satu hal. Pelukanmu adalah tempat paling nyaman. Sejak saat itu aku tahu, aku punya tempat untuk pulang.
Kala, waktu, hari, dan saat itu. Ketika aku melihat senyumanmu, ketika aku mengajakmu berkenalan, ketika aku merasakan hangatnya jemari tanganmu, dan ketika kamu memelukku di muka rumahku, aku mengerti bahwa kamulah jawaban untuk membuat duniaku utuh ketika aku butuh tempat untuk pulang.


***

kebersamaan tidak ingin dipilih

kebersamaan itu fana
munafik
aneh
bercela
meremukkan

tapi, mengapa?
mengapa aku ingin meraih kebersamaan itu?

hatiku memang brengsek
padahal otak sudah merengsek
kebersamaan hanya sekedar tetek bengek
realitasnya merengek

bolehkan kalau kuminta kita bersama?

tidak. jawab otak

iya. kata hati

bagaimana memiliki kebersamaan?
kebersamaan tidak ingin dipilih.

tentang puisi yang dituliskan kembali

berawal dari apa saya tahu mengenai sesuatu yang tidak abadi, maka saya memutuskan untuk memperlihatkan puisi saya yang sederhana ini melalui ketikan laptop. saya tahu menulis di kertas memang lebih menyenangkan dibandingkan mengetik seperti ini. tapi apa daya kalau suatu hal terjadi (buku puisi yang basah misalnya, atau selalu hilang begitu)
untuk itu, saya akan 'menulis' di blog ini. ya... bukan berarti blog ini abadi.
kan sudah saya bilang tidak ada yang abadi.

yang berubah dan tetap

banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...