Tuesday, November 29, 2016

?

berderai - derai tirta kencana gemerlapan di sudut netranya
durjana tersebut tercampak melewati pipi semu merahnya sebelum jatuh ke butala

ego ditampar realitas gambaran wanita yang terpantul di depan
dia menangis.
kemudian fuad dan akal seperti dijatuhi reruntuhan
bayangan tangisan itu,
puan indah itu,
tak piawain melawannya,

sudah berakhir remasan jantungku 

tulisan terakhirku (di bulan november)

saya lelah.
karena lelah yang bisa saya sampaikan ya tulisan di atas.
sekian.











HAHAHAHA saya bercanda,
ok.


bagaimana kalau waktu berhenti bergerak? semua hal di dalam semesta ini terdiam bagai patung? atau bagaimana kalau kesunyian meliputi segala hal?
bisakah terjadi demikian?
karena jika memang benar terjadi mungkin manusia tak perlu sesulit itu untuk bisa hidup.
manusia harus selalu bergerak, bukan?
jadi jika seluruh dan semua hal tanpa terkecuali 'mati' bisu dan tak bergerak, mau jadi apa manusia?
dingin dan kelu?
hampa dan tak berharga?
kosong dan tak bersegi?
ya.. hanya ada ketikadaan.
ketidakadaan didalam hidup berarti tidak hidup
tanpa hidup berarti tidak akan ada masalah apapun
tiada masalah membuat segalanya lebih mudah.
jadi bagaimana kalau sekarang kita semua terdiam?
mungkin hati ini juga akan mati dan diam.

Monday, November 7, 2016

Mata Cokelat

Karena mata cokelat itu menyihirku. Menjadikan realitas hanyalah kebohongan belaka. Aku terpaku. Aku hanya ingin jatuh dan mencinta pada mata cokelat itu.
Aku pertama kali melihatnya ketika salju turun pertama membasahi bumi dengan putih. Tidak seperti hatiku yang biru. Begitu kontras dengan putihnya salju. Aku melihatnya duduk disebuah bangku taman. Membaca sebuah buku yang tidak jelas judulnya. Entah apa yang menarikku. Aneh. Aku menghampirinya. Benar – benar klise.
“Hai.” sapaku.
Dia mengangkat kepalanya . Dengan pipi merah kedinginan dan senyum mengembang dia membalas sapaku.
“Hai juga.”
Saat itulah aku melihat matanya. Terbingkai kacamata tebal namun tetap terlihat jelas matanya. Bukan hitam kelabu melainkan cokelat. Cokelat muda itu mengingatkanku pada  karamel. Begitu manis dan lembut namun di satu sisi tajam dan memabukkan. Mulutku kelu. Aku mengumpat dalam hati. Aku tahu sejak detik itu aku telah jatuh cinta pada sepasang mata berwarna cokelat.
Aku duduk disampingnya. Bertanya siapakah gerangan nama gadis itu.
“Bintang.”
“Bintang? Namamu bintang?”
“Iya. Mengapa?”
Aku hanya tertawa dan memandang langit.
“Itu kamu?”, kataku menunjuk langit.
“Mungkin orangtuaku disana. “
Aku terdiam. Kembali termenung di tengah putihnya salju. Hatiku sudah tidak biru. Mungkin sekarang berwarna cokelat seperti matanya. Menenangkan.
“Namamu siapa?”, tanya Bintang.
“Aku Bulan. Suatu kebetulan yang luar biasa bukan? Namamu dan namaku adalah penghias malam di atas sana.”
Mata cokelatnya menatapku untuk terakhir kalinya dan tersenyum

“Benar juga.” 

tidur dan waktu

saya hampir saja melompat dari tebing. secara metafora tentu saja.
tapi tunggu..
ada kemungkinan beberapa persen kalau itu juga harafiah
mengapa demikian?
banyak hal yang membuat saya akhirnya memiliki sahabat baru dan musuh besar
jadi saat ini tidur adalah sahabat terbaik yang saya punya. kami berdua ingin selalu bersama tetapi seringkali dipisahkan oleh musuh terbesar saya: waktu
teruntuk waktu, saya ingin sekali menusuk anda dengan benda tajam seperti misalnya dengan jarum anda sendiri agar anda berhenti berdetik, bermenit, dan berjam.

banyak sekali hal yang harus saya pikirkan dan kerjakan. untung saja saya tidak jadi melompat dari tebing.
maka dari itu,
waktu, ijinkan saya bertemu sahabat saya nanti malam ya.

Sepasang Sayap

Sepasang Sayap
Andaikan aku punya sepasang sayap, aku pasti akan pergi dari sini. Meninggalkan semua yang ada. Sayap itu akan membuatku terbang menjauh dari dunia dan pergi ke angkasa menuju sesuatu yang lebih baik.
Semua orang akan mengatakan aku Si Gila. Si Gila berkacamata dengan imaji yang terlalu luar biasa untuk diproses otak. Ya. Benar. Aku gila. Aku menyadari hal itu. Tentu saja. Apa yang tidak aneh dari seorang pengidap down syndrome? Wajahku begitu pucat untuk dibandingkan dengan semua hal. Wajahku aneh. Normal pun tidak, bagaimana ingin cantik? Namun tak pernah sekalipun aku merasa diriku sebagai yang terbelakang. Selalu kuyakinkan dan kumantapkan hati bahwa aku baik apa adanya. Bisa bernafas pun membuat aku menjadi manusia yang paling beruntung.
Seolah seluruh dunia ikut meyakinkan dan mengklarifikasi bahwa aku aneh. Seolah – olah dunia ingin menjatuhkan aku. Padahal, salah apa aku? Aku tidak salah apapun kan? Aku baik – baik saja, bukan?
Sampai suatu kali goyahku jatuh dan terjerembab. Manusia jahanam itu lagi – lagi melayangkan pandangannya ke arahku dengan tatapan yang jauh dari kata sopan. Sengaja dia ingin merendahkan aku manusia aneh ini. Sering kali dan banyak kali aku tidak acuh dengan tatapan sinisnya. Tatapan yang merendahkan diri dan membuatku merasa aneh. Tak ku gubris. Sekali pun. Sampai hari ini.
Manusia sial itu tetap memandangku. Bibirnya mencibir dan suara jahat itu keluar,
“Gadis bodoh bermuka aneh. Apa yang kau lakukan disini?”
Semua bibir terkatup menutup. Hening. Semua pasang mata memandang ku.
“Ke.. na.. pa?”, patahku
“Kalau sudah cacat jangan belagu seperti itu. Kamu aneh dan adanya kamu disini membuat kami terlihat aneh pula. Jangan dekati kami.”
Seluruh dinding dalam hatiku runtuh. Aku tahu aku gadis aneh yang invalid. Tapi bukankah aku tetap punya hak dan kebebasan untuk tetap berada disini? Tertawa dan merasakan hidup sepenuhnya?
Aku berjalan keluar ruangan. Menitikan satu demi satu air mata yang jatuh dengan bantuan gravitasi. Aku tak peduli. Rasanya sudah terlalu lelah untuk menahan jatuhnya air mata. Bahkan untuk mengangkat tangan dan menyeka air mata sudah menjadi sesuatu hal yang terlalu berat untuk kulakukan sendiri.
Duduklah aku di taman. Berdiam dan menangis. Menyesali nasib sebagai anak down syndrome.
Rasanya ingin punya sayap.
Iya. Sayap yang dapat membuatku terbang jauh dari sini. Dari penderitaan durjana dan pedih ini.
Ku ambil benda tajam yang berkilau itu dari kantung celanaku.
Kuhunus benda tajam. Terlalu berat.
Maafkan aku, aku terlalu ingin punya sayap.
Dibalik semburat darah memancar, tumbuhlah sepasang sayap dan aku pergi. Tersenyum.

***


beradu

sementara kita saling beradu
mata dengan telinga
kepala dengan hati

mengapakah durjana begitu penat
dingin dan kelu
karena dinginnya pagi
ataukah beradu kita berakhir

teuntuk menjadi cinta yang tunggal
tiada berlegi hanya untuk dinda
dalam keheningan kamu tergugu
aku harus apa

dan peraduan itu pergi

yang berubah dan tetap

banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...