Thursday, September 29, 2016

lantas bagaimana?

aku tak ingin bersamamu
atau lebih tepatnya
aku tidak bisa

berada disebelah mu,

menyadarkan kepalaku di atas dada bidang mu,

mengecup lembut pipi mu,

dan mencinta mu,

adalah empat hal yang terlarang bagi diriku

tetapi
.
.
aku mau

tujuan setitik debu

aku hanyalah setitik debu
kecil tak berarti
paradigma manusia mengatakan aku tak esensial

apa itu setitik debu?
tidak ada gunanya pikir mereka
tapi aku punya tujuan
tujuanku adalah menjadi tujuan bagi manusia

aku bukan sesuatu yang menarik bagi kalian
bukan pula hal signifikan dari hal - hal besar
bukan
bukan itu
aku punya tujuan yang sebenarnya hanya sederhana

kalian mungkin memang tak butuh eksistensiku
aku tahu benar
katanya  eksistensi tanpa esensi sama dengan mati
aku tidak mati
aku memiliki eksistensi

pernahkah terbersit pertanyaan
mengapa setitik debu ada?
jawabannya satu
untuk mengingatkan manusia apa yang aku tutupi

kesadaran kalian mengenai betapa pentingnya hal yang aku tutupi akan muncul
saat setitik debu ada
sudah ku katakan
tujuan kami sederhana

yang perlu kalian lakukan adalah menyadari tujuan setitik debu
menghapuskan kami dan segala intisarinya

setitik debu rela berada dalam ketidakadaan
asalkan tujuannya sudah terlaksana

Monday, September 26, 2016

ini curhat saja ya..

saya lagi suka sekali dengan lagunya Banda Neira yang berjudul :

'Sampai Jadi Debu'


liriknya tuh sederhana tetapi aduhai berarti sekali. musik dan liriknya kawin sekali. apalagi dengan dentingan piano oleh Gardika Gigih yang dimulai detik ke 0.05 membuat saya jatuh cinta pada pendengaran pertama dengan nadanya. kemudian ketika suara Rara Sekar muncul, rasanya syahdu sekali tiba tiba kamar kosan saya. kurang lebih 3 menit kemudian ketika Rara Sekar mengaksarakan lagunya, hati saya langsung berhenti berdetak. suka sekali mulai dari diksi pertama. dilengkapi dengan suara khasnya Ananda Badudu menjadikan lagu ini sangat sangat harus didengarkan di tepi jendela sore sore ketika hujan! kalian harus dengar ya sobat... (ewhhh)

liriknya seperti ini :

badai tuan telah berlalu
salahkah ku menuntut mesra
tiap pagi menjelang
kau di sampingku
ku aman ada bersamamu

selamanya
sampai kita tua
sampai jadi debu
ku di liang yang satu
(ku disebelahmu)

badai puan telah berlalu
salahkah ku menuntut mesra
tiap taufan menyerang
kau di sampingku
kau aman ada bersamaku

selamanya
sampai kita tua
sampai jadi debu
ku di liang yang satu
(ku disebelahmu)

apa yang salah, adinda?

apa yang salah, adinda?
mengapa kau berpaling?
rasa hati yang melanda
terlihat di matamu

adinda,
jangan membuatku tersiksa
menyakiti sejuta asa
menjadikan otak merasa luka menganga

adinda, apa yang salah?

Apa Yang Salah (adaptasi puisi 'apa yang salah, adinda?')

Bisakah kamu melihat betapa cintanya aku padamu. Bagaimana aku memberikan hatiku seutuhnya. Hanya untukmu.
Apa yang salah, adinda? Mengapa kamu selalu berpaling dari hadapanku? Aku lelah ditinggal pergi.
Apa yang salah? Tidak ada yang salah. Jangan membuat masalah ketika tidak ada masalah.
Kamu tersenyum.
Tetapi esoknya kamu membenci aku.
Kamu berkata kamu mencintai aku.
Esoknya kamu menamparku dengan kata bencimu.
Begitu cintanya aku padamu, maka aku bertahan disini. Aku selalu disini.
Ku tanya sekali lagi. Apa yang salah, adinda? Mengapa tidak bisa kau biarkan aku mencintaimu?
Untuk pertama kalinya aku memohon. Pandanglah kedua mataku. Di dalamnya kamu akan melihat aku. Aku yang begitu mencintaimu, tanpa syarat sekecil debu pun.
Untuk kedua kalinya aku memohon. Biarkan aku menggenggam jemarimu. Di saat itu kamu akan merasakan betapa hangatnya cintaku padamu.
Untuk ketiga kalinya aku memohon. Lihatlah aku yang berdiri disini. Hanya untukmu. Menunggu kamu tanpa kenal lelah. Lihatlah aku yang begitu mencintaimu tanpa mengerti hukum waktu.
Apa yang salah? Tidak bisa kah kamu berhenti berlari dari aku dan mulai berhenti untuk aku kejar?
Aku cuma ingin kamu tahu bahwa tidak ada yang salah. Jadi tolong lihat aku dan berkata semuanya  baik – baik saja dan memang tidak ada masalah.
“Maaf, yang salah ada padaku.”, katamu menjawab pertanyaanku.
Ku diam.

***

Rindu Sebuah

rindu sebuah aksara mati/melayang layang//
rinu sebuah jarak menebas meretas/terbungkm mulut terkatup//
rindu sebuah tanya/ dari saksi bisu air mata//
rindu sebuah realitas/tergugu/terisak/antara dirimu dan aku//

Rindu Sebuah (Adaptasi dari puisi 'Rindu Sebuah' )

Rindu sebuah aksara mati melayang – layang. Ketika kamu merindu aku. Itu hanya sebuah aksara. Aksara mati yang tidak hidup.
Kirana mencintai lewat monitor. Dirinya memandang layar monitor itu untuk merindu. Memeluk layar hanya untuk mengungkapkan rasa cinta. Yang dilihatnya hanyalah warna – warni monitor dan sesosok wajah yang bergerak.
Wajah yang dicintainya itu dimiliki oleh seorang lelaki bernama Gama. Lelaki yang paling Kirana cinta. Tetapi apa daya ketika jarak harus tertawa ketika Gama harus berlayar ke benua sebelah. Hati Kirana hancur. Tapi dia tau dirinya tak bisa merengek – rengek seperti anak kecil. Dia harus belajar merelakan agar Gama dapat meraih apa yang diimpinkannya.
Mereka berdua belajar bahwa rindu adalah sesuatu yang sakral. Yang dapat mereka lakukan hanyalah bertemu tatap dibalik layar monitor masing – masing.
Kirana menangis dibalik senyumannya di depan layar. Gama merengut dibalik tawanya di depan layar.

Tetapi apa daya? Rindu itu tetap memiliki eksistensi.

waktu berhenti saja lah!

mengapa waktu harus terus berjalan?
apakah sang kronos tak ingin beristirahat
barang sejenak saja?
banyak jiwa berharap
agar waktu berhenti saja
karena dengan itu kebahagiaan tak lekang oleh waktu

tapi,
pada akhirnya manusia tak bisa melakukan apa - apa, bukan?

jelita.

jelita menari nari terbakar di depan netra
wajahnya mengambar garis vertikal mengembang
yang membuat dada ini ngilu 
serta gemeretak gigi

meledak pula kepala jelita
tidak ada darah mengucur
hanya kekecewaan yang begitu dalam
dan sekujur tubuh menggigil bersalah

sampai akhirnya
gambaran itu berganti kekosongan
kemudian terang



U

seradu padu benalu terlalu
terlalu memalu mengilu
mengilu lalu beradu
beradu semu meramu
meramu debu semu
semu kamu lalu aku
erak begitu penat
sembari gundah menemani
kemudian asa memanggil manggil lirih
lelah mulut dan telinga
mataku sayu sayu melemah hidung cium busuk

lalu mengapa tidak berbalik saja?

ingin ku...

ingin ku jadi matamu
untuk menetrakan tatapan butalamu
ingin ku jadi telingamu
mendengar suara yang hanya bisa didengar olehmu
ingin ku jadi hidungmu
mencium aroma yang kamu cium
ingin ku jadi bibirmu
untuk merasakan sentuhan lembut bibir kita yang saling beradu
ingin ku jadi rindumu
seperti isyarat yang tiada terssampaikan
ingin ku jadi cintamu
biar ku hidup seutuhnya
bagaimana membuat aksara mati?.
.
.
atau ku harus mati juga?

yang berubah dan tetap

banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...