kemarin,
ayah
bertanya
“apa mimpimu nak?”
sang anak enggan membuka mulutnya.
karena
ia
sudah lupa
dengan semua yang bernama
mimpi
dan cita-cita
apakah dulu ia pernah mempunyai
mimpi
untuk hari esok?
rasa rasanya seiring dengan berjalannya tahun yang tergambar
lewat rambut putih ayahnya
ia perlahan melupakan makna dari cita
tidak terlalu penting katanya
mimpi hanyalah bunga tidur
yang tidak akan membawanya pergi kemana-mana
makanya ia diam
meninggalkan ayah
beserta raut wajahnya
yang penuh
dengan
yang namanya
kekhawatiran.
Saturday, July 27, 2019
apa jawabannya? kapan aku mengetahui jawabannya?
pernah tidak sih berbulan bulan kamu berusaha mengejar sesuatu sampai rasanya kamu sudah mengerahkan semuanya ke sana? Dan setelah semuanya selesai dan berhasil, ada langkah selanjutnya yang harus kamu ambil. tapi... bahkan sekarang kamu tidak tahu harus berjalan ke mana. bahkan untuk tahu jalan mana yang harus dipilih saja, kamu sudah terlampau bingung.
Ada ekspektasi, harapan, dan kata-kata yang harus dipenuhi dari orang sekitarmu. sampai-sampai ingin membekukan waktu saja agar semua pertanyaan yang belum ada jawabannya itu akan berhenti dipertanyakan karena kamu bahkan belum tahu jawabannya.
belum. tapi seharusnya akan tahu ya?
tapi kamu tidak tahu berapa lama lagi kamu akan diam dan duduk di titik yang sama sampai kamu harus dan terpaksa bangkit dan berjalan.
Ada ekspektasi, harapan, dan kata-kata yang harus dipenuhi dari orang sekitarmu. sampai-sampai ingin membekukan waktu saja agar semua pertanyaan yang belum ada jawabannya itu akan berhenti dipertanyakan karena kamu bahkan belum tahu jawabannya.
belum. tapi seharusnya akan tahu ya?
tapi kamu tidak tahu berapa lama lagi kamu akan diam dan duduk di titik yang sama sampai kamu harus dan terpaksa bangkit dan berjalan.
Friday, July 26, 2019
naka naka baka (なか なか ばか)
Setelah selesai dengan empat tahun tanggung jawabku terhadap kuliah jurusan jurnalistik akhirnya aku kembali ke sudut ini. Memandangi layar laptop putih dengan ketikan jari yang bahkan tidak ku ketahui akan mengarah kemana. lantunan lagu My Jinji milik Sunset Rollercoaster terdengar di kedua telinga kiri dan kananku berkat bantuan earphone putih andalanku. Rambut sebahuku kuikat satu karena udara terasa panas bahkan di kamar dengan AC bersuhu 20. Ada sebuah perasaan rindu yang memuncak di dada terhadap sebuah blog yang sudah setahun enam bulan ku abaikan. Selain rindu, ada rasa kecil mengenai ketakutan terhadap suatu hal yang sebelumnya pernah menjadi suatu hal yang amat ku sukai karena setelah lamanya waktu berjalan, aku mati rasa rasanya? Khawatir tidak bisa menulis dengan perasaan yang sama lagi seperti tahun-tahun lalu.
Namun satu hal yang ku tahu akan ku ceritakan adalah mengenai: naka naka baka.
beberapa bulan ini aku mendapat kesempatan untuk belajar bahasa Jepang, bahkan di tengah berbagai kesibukan yang rasanya tidak ada habisnya. Lebih tepatnya memaksakan menyempatkan waktu untuk satu setengah jam kelas seminggu dua kali untuk sejenak kabur dari berbagai hal yang merantai kakiku. tapi pilihanku ini tepat.
senang rasanya bisa belajar suatu hal yang baru. setiap pertemuan selesai pada pukul 19:00, aku akan mendapatkan ungkapan-ungkapan baru yang bisa kubagikan di story instagramku yang seolah menjadi sandi rahasia yang hanya diketahui olehku, segelintir orang, dan google translate. seru sekali ketika aku bisa mengungkapkan sesuatu yang tidak banyak diketahui orang dan hal itu membuatku merasa keren.
Sambil menegetik ini semua, pikiranku melayang ke hari kamis lalu atau tepatnya kemarin ketika kami sedang belajar mengenai kalimat dengan verb te (yang lebih baik tidak usah ku jelaskan karena malah akan jadi lebih membingungkan dibandingkan memperjelasnya). Sensei kami menulis sebuah kalimat di papan tulis putih tersebut dengan huruf hiragana yang jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia akan berarti "Erwin-san ganteng dan lumayan pintar".
Lumayan dalam bahasa Jepang adalah Naka naka. Lalu spontan aku melontarkan sebuah kalimat "naka naka baka?". Untukmu yang tidak tahu, Baka adalah sebuah kalimat berbahasa Jepang yang akhir-akhir ini aku sukai. Artinya bodoh.
senseiku mengatakan bahwa naka naka baka jarang digunakan, lagi pula kata kata itu terlalu kasar. "Lebih baik 'sukoshi baka' saja, Samantha-san", ujar senseiku. karena ketika kamu mencari arti dari kata sukoshi, kamu akan menemukan kata 'sedikit'.
Kemudian malam ini aku sampai pada kesimpulan bahwa aku bukan sukoshi, melainkan naka naka. Aku adalah orang yang lumayan bodoh karena sudah berpura - pura baik - baik saja selama delapan bulan ini. padahal sedikit yang tahu bahwa saat ini saja, ketika Pilu Membirunya Kunto Aji terputar, hati ku masih mati. Benar benar naka naka baka, bukan?
Namun satu hal yang ku tahu akan ku ceritakan adalah mengenai: naka naka baka.
beberapa bulan ini aku mendapat kesempatan untuk belajar bahasa Jepang, bahkan di tengah berbagai kesibukan yang rasanya tidak ada habisnya. Lebih tepatnya memaksakan menyempatkan waktu untuk satu setengah jam kelas seminggu dua kali untuk sejenak kabur dari berbagai hal yang merantai kakiku. tapi pilihanku ini tepat.
senang rasanya bisa belajar suatu hal yang baru. setiap pertemuan selesai pada pukul 19:00, aku akan mendapatkan ungkapan-ungkapan baru yang bisa kubagikan di story instagramku yang seolah menjadi sandi rahasia yang hanya diketahui olehku, segelintir orang, dan google translate. seru sekali ketika aku bisa mengungkapkan sesuatu yang tidak banyak diketahui orang dan hal itu membuatku merasa keren.
Sambil menegetik ini semua, pikiranku melayang ke hari kamis lalu atau tepatnya kemarin ketika kami sedang belajar mengenai kalimat dengan verb te (yang lebih baik tidak usah ku jelaskan karena malah akan jadi lebih membingungkan dibandingkan memperjelasnya). Sensei kami menulis sebuah kalimat di papan tulis putih tersebut dengan huruf hiragana yang jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia akan berarti "Erwin-san ganteng dan lumayan pintar".
Lumayan dalam bahasa Jepang adalah Naka naka. Lalu spontan aku melontarkan sebuah kalimat "naka naka baka?". Untukmu yang tidak tahu, Baka adalah sebuah kalimat berbahasa Jepang yang akhir-akhir ini aku sukai. Artinya bodoh.
senseiku mengatakan bahwa naka naka baka jarang digunakan, lagi pula kata kata itu terlalu kasar. "Lebih baik 'sukoshi baka' saja, Samantha-san", ujar senseiku. karena ketika kamu mencari arti dari kata sukoshi, kamu akan menemukan kata 'sedikit'.
Kemudian malam ini aku sampai pada kesimpulan bahwa aku bukan sukoshi, melainkan naka naka. Aku adalah orang yang lumayan bodoh karena sudah berpura - pura baik - baik saja selama delapan bulan ini. padahal sedikit yang tahu bahwa saat ini saja, ketika Pilu Membirunya Kunto Aji terputar, hati ku masih mati. Benar benar naka naka baka, bukan?
Subscribe to:
Posts (Atom)
yang berubah dan tetap
banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...
-
mari berjalan beriringan menuju peraduan menuju tempat yang kita kenal dengan 'kenangan masa lalu' meniti langkah demi setapak ing...
-
banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...