Monday, December 5, 2016

jendela bundar dan kopi hitam

Entah kenapa kaki melangkahkanku duduk di samping jendela bundar. Sinar terang menusuk mataku ketika ku berjalan untuk duduk disana. Tak apa. Aku anak matahari. Cahayanya membuat semua terasa sempurna.
Aku memesan secangkir kopi hitam. Sehitam hari dan seberat asa. Dan sebelum pikiran itu kembali cepat ku buka buku yang sedang ku baca. Buku bisa mengalihkan pikiranku pada hal hal yang berat dan hitam beberapa hari ini.
Rasa pahit dari kopi membuat aku semakin menyadari bahwa definisi dari pahit adalah sejak dia memutuskan untuk meninggalkanku sendiri 2 bulan yang lalu.
Rasanya mual. Aku tutup buku yang ada di atas meja. Dan menengok ke sebelah kanan. Ke arah jalanan yang penuh dengan warna warna orang berlalu lalang.
Aku terdiam. Berfikir keras. Meratapi nasib. Hampir tersedu sedan tapi ku tahan.
Rasa tak pernah berbohong dan air mata yang jatuh di pipiku adalah buktinya. Aku menghapusnya cepat.
Tanpa kusadari di sebrang jalan ada sesosok yang sangat ku kenal. Yang begitu aku rindukan dan menyebabkan kehambaran dalam hidupku.
Dia berjalan perlahan menuju jendela bundar dimana aku ada di baliknya.
Dia tersenyum. Mengetuk kaca dengan jari telunjuknya.
Mulutnya membuka untuk merangkai kata
M a a f
aku berlari keluar dari cafe itu. Menuju keluar dan dia berdiri di samping jendela bundar. Aku berlari memeluknya.
"Kamu tahu tidak kopiku sangat pahit 2 bulan ini?"
"Sekarang kamu bisa tambahkan gula lagi."

No comments:

Post a Comment

yang berubah dan tetap

banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...