Friday, July 26, 2019

naka naka baka (なか なか ばか)

Setelah selesai dengan empat tahun tanggung jawabku terhadap kuliah jurusan jurnalistik akhirnya aku kembali ke sudut ini. Memandangi layar laptop putih dengan ketikan jari yang bahkan tidak ku ketahui akan mengarah kemana. lantunan lagu My Jinji milik Sunset Rollercoaster terdengar di kedua telinga kiri dan kananku berkat bantuan earphone putih andalanku. Rambut sebahuku kuikat satu karena udara terasa panas bahkan di kamar dengan AC bersuhu 20. Ada sebuah perasaan rindu yang memuncak di dada terhadap sebuah blog yang sudah setahun enam bulan ku abaikan. Selain rindu, ada rasa kecil mengenai ketakutan terhadap suatu hal yang sebelumnya pernah menjadi suatu hal yang amat ku sukai karena setelah lamanya waktu berjalan, aku mati rasa rasanya? Khawatir tidak bisa menulis dengan perasaan yang sama lagi seperti tahun-tahun lalu.

Namun satu hal yang ku tahu akan ku ceritakan adalah mengenai: naka naka baka.

beberapa bulan ini aku mendapat kesempatan untuk belajar bahasa Jepang, bahkan di tengah berbagai kesibukan yang rasanya tidak ada habisnya. Lebih tepatnya memaksakan menyempatkan waktu untuk satu setengah jam kelas seminggu dua kali untuk sejenak kabur dari berbagai hal yang merantai kakiku. tapi pilihanku ini tepat.
senang rasanya bisa belajar suatu hal yang baru. setiap pertemuan selesai pada pukul 19:00, aku akan mendapatkan ungkapan-ungkapan baru yang bisa kubagikan di story instagramku yang seolah menjadi sandi rahasia yang hanya diketahui olehku, segelintir orang, dan google translate. seru sekali ketika aku bisa mengungkapkan sesuatu yang tidak banyak diketahui orang dan hal itu membuatku merasa keren.

Sambil menegetik ini semua, pikiranku melayang ke hari kamis lalu atau tepatnya kemarin ketika kami sedang belajar mengenai kalimat dengan verb te (yang lebih baik tidak usah ku jelaskan karena malah akan jadi lebih membingungkan dibandingkan memperjelasnya). Sensei kami menulis sebuah kalimat di papan tulis putih tersebut dengan huruf hiragana yang jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia akan berarti "Erwin-san ganteng dan lumayan pintar".

Lumayan dalam bahasa Jepang adalah Naka naka. Lalu spontan aku melontarkan sebuah kalimat "naka naka baka?". Untukmu yang tidak tahu, Baka adalah sebuah kalimat berbahasa Jepang yang akhir-akhir ini aku sukai. Artinya bodoh.
senseiku mengatakan bahwa naka naka baka jarang digunakan, lagi pula kata kata itu terlalu kasar. "Lebih baik 'sukoshi baka' saja, Samantha-san", ujar senseiku. karena ketika kamu mencari arti dari kata sukoshi, kamu akan menemukan kata 'sedikit'.

Kemudian malam ini aku sampai pada kesimpulan bahwa aku bukan sukoshi, melainkan naka naka. Aku adalah orang yang lumayan bodoh karena sudah berpura - pura baik - baik saja selama delapan bulan ini. padahal sedikit yang tahu bahwa saat ini saja, ketika Pilu Membirunya Kunto Aji terputar, hati ku masih mati. Benar benar naka naka baka, bukan?

No comments:

Post a Comment

yang berubah dan tetap

banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...