kemarin,
ayah
bertanya
“apa mimpimu nak?”
sang anak enggan membuka mulutnya.
karena
ia
sudah lupa
dengan semua yang bernama
mimpi
dan cita-cita
apakah dulu ia pernah mempunyai
mimpi
untuk hari esok?
rasa rasanya seiring dengan berjalannya tahun yang tergambar
lewat rambut putih ayahnya
ia perlahan melupakan makna dari cita
tidak terlalu penting katanya
mimpi hanyalah bunga tidur
yang tidak akan membawanya pergi kemana-mana
makanya ia diam
meninggalkan ayah
beserta raut wajahnya
yang penuh
dengan
yang namanya
kekhawatiran.
No comments:
Post a Comment