Monday, September 26, 2016

Rindu Sebuah (Adaptasi dari puisi 'Rindu Sebuah' )

Rindu sebuah aksara mati melayang – layang. Ketika kamu merindu aku. Itu hanya sebuah aksara. Aksara mati yang tidak hidup.
Kirana mencintai lewat monitor. Dirinya memandang layar monitor itu untuk merindu. Memeluk layar hanya untuk mengungkapkan rasa cinta. Yang dilihatnya hanyalah warna – warni monitor dan sesosok wajah yang bergerak.
Wajah yang dicintainya itu dimiliki oleh seorang lelaki bernama Gama. Lelaki yang paling Kirana cinta. Tetapi apa daya ketika jarak harus tertawa ketika Gama harus berlayar ke benua sebelah. Hati Kirana hancur. Tapi dia tau dirinya tak bisa merengek – rengek seperti anak kecil. Dia harus belajar merelakan agar Gama dapat meraih apa yang diimpinkannya.
Mereka berdua belajar bahwa rindu adalah sesuatu yang sakral. Yang dapat mereka lakukan hanyalah bertemu tatap dibalik layar monitor masing – masing.
Kirana menangis dibalik senyumannya di depan layar. Gama merengut dibalik tawanya di depan layar.

Tetapi apa daya? Rindu itu tetap memiliki eksistensi.

No comments:

Post a Comment

yang berubah dan tetap

banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...