Mara melihat kembali waktu yang melingkar di pergelangan tangannya untuk keseribu kaliya. Dia sudah duduk di tempat yang sama selama hampir 30 menit. Gerak - geriknya terlihat begitu gelisah. Matanya tak henti - henti menoleh pada pintu di samping kanannya. Satu hal yang dia sadari saat itu: dia sama sekali tidak suka menunggu. menunggu sebuah hal yang tidak pasti. Seolah saat ini waktu sedang mengejeknya. Detik - detik di jam tangannya melawan kekhawatiran hatinya. Laki - laki itu berjanji akan menemuinya, namun sekarang Mara sudah tidak yakin lagi dia akan datang.
Pertanyaan muncul dalam benaknya, pertarungan sengit antara dua musuh bebuyutan, hati dan pikiran. Pikiran menyuruhnya untuk segera berlari pergi meninggalkan semuanya, meninggalkan lelaki itu. Sementara si hati memberikan pilihan untuk tetap menunggu. menunggu sesuatu yang tidak diketahui sembari berharap bahwa selalu ada kemungkinan yang membuat hati bahagia.
Mara memandang waktu untuk terakhir kalinya kemudian dia berdiri.
***
No comments:
Post a Comment