durjana tersebut tercampak melewati pipi semu merahnya sebelum jatuh ke butala
ego ditampar realitas gambaran wanita yang terpantul di depan
dia menangis.
kemudian fuad dan akal seperti dijatuhi reruntuhan
bayangan tangisan itu,
puan indah itu,
tak piawain melawannya,
sudah berakhir remasan jantungku
No comments:
Post a Comment