Sepasang Sayap
Andaikan aku punya sepasang sayap,
aku pasti akan pergi dari sini. Meninggalkan semua yang ada. Sayap itu akan
membuatku terbang menjauh dari dunia dan pergi ke angkasa menuju sesuatu yang
lebih baik.
Semua
orang akan mengatakan aku Si Gila. Si Gila berkacamata dengan imaji yang
terlalu luar biasa untuk diproses otak. Ya. Benar. Aku gila. Aku menyadari hal
itu. Tentu saja. Apa yang tidak aneh dari seorang pengidap down syndrome? Wajahku begitu pucat untuk dibandingkan dengan semua
hal. Wajahku aneh. Normal pun tidak, bagaimana ingin cantik? Namun tak pernah
sekalipun aku merasa diriku sebagai yang terbelakang. Selalu kuyakinkan dan
kumantapkan hati bahwa aku baik apa adanya. Bisa bernafas pun membuat aku menjadi
manusia yang paling beruntung.
Seolah
seluruh dunia ikut meyakinkan dan mengklarifikasi bahwa aku aneh. Seolah – olah
dunia ingin menjatuhkan aku. Padahal, salah apa aku? Aku tidak salah apapun
kan? Aku baik – baik saja, bukan?
Sampai
suatu kali goyahku jatuh dan terjerembab. Manusia jahanam itu lagi – lagi
melayangkan pandangannya ke arahku dengan tatapan yang jauh dari kata sopan.
Sengaja dia ingin merendahkan aku manusia aneh ini. Sering kali dan banyak kali
aku tidak acuh dengan tatapan sinisnya. Tatapan yang merendahkan diri dan
membuatku merasa aneh. Tak ku gubris. Sekali pun. Sampai hari ini.
Manusia
sial itu tetap memandangku. Bibirnya mencibir dan suara jahat itu keluar,
“Gadis
bodoh bermuka aneh. Apa yang kau lakukan disini?”
Semua
bibir terkatup menutup. Hening. Semua pasang mata memandang ku.
“Ke..
na.. pa?”, patahku
“Kalau
sudah cacat jangan belagu seperti itu. Kamu aneh dan adanya kamu disini membuat
kami terlihat aneh pula. Jangan dekati kami.”
Seluruh
dinding dalam hatiku runtuh. Aku tahu aku gadis aneh yang invalid. Tapi bukankah aku tetap punya hak dan kebebasan untuk
tetap berada disini? Tertawa dan merasakan hidup sepenuhnya?
Aku
berjalan keluar ruangan. Menitikan satu demi satu air mata yang jatuh dengan
bantuan gravitasi. Aku tak peduli. Rasanya sudah terlalu lelah untuk menahan
jatuhnya air mata. Bahkan untuk mengangkat tangan dan menyeka air mata sudah
menjadi sesuatu hal yang terlalu berat untuk kulakukan sendiri.
Duduklah
aku di taman. Berdiam dan menangis. Menyesali nasib sebagai anak down syndrome.
Rasanya
ingin punya sayap.
Iya.
Sayap yang dapat membuatku terbang jauh dari sini. Dari penderitaan durjana dan
pedih ini.
Ku
ambil benda tajam yang berkilau itu dari kantung celanaku.
Kuhunus
benda tajam. Terlalu berat.
Maafkan
aku, aku terlalu ingin punya sayap.
Dibalik
semburat darah memancar, tumbuhlah sepasang sayap dan aku pergi. Tersenyum.
***
No comments:
Post a Comment