Monday, November 7, 2016

Sepasang Sayap

Sepasang Sayap
Andaikan aku punya sepasang sayap, aku pasti akan pergi dari sini. Meninggalkan semua yang ada. Sayap itu akan membuatku terbang menjauh dari dunia dan pergi ke angkasa menuju sesuatu yang lebih baik.
Semua orang akan mengatakan aku Si Gila. Si Gila berkacamata dengan imaji yang terlalu luar biasa untuk diproses otak. Ya. Benar. Aku gila. Aku menyadari hal itu. Tentu saja. Apa yang tidak aneh dari seorang pengidap down syndrome? Wajahku begitu pucat untuk dibandingkan dengan semua hal. Wajahku aneh. Normal pun tidak, bagaimana ingin cantik? Namun tak pernah sekalipun aku merasa diriku sebagai yang terbelakang. Selalu kuyakinkan dan kumantapkan hati bahwa aku baik apa adanya. Bisa bernafas pun membuat aku menjadi manusia yang paling beruntung.
Seolah seluruh dunia ikut meyakinkan dan mengklarifikasi bahwa aku aneh. Seolah – olah dunia ingin menjatuhkan aku. Padahal, salah apa aku? Aku tidak salah apapun kan? Aku baik – baik saja, bukan?
Sampai suatu kali goyahku jatuh dan terjerembab. Manusia jahanam itu lagi – lagi melayangkan pandangannya ke arahku dengan tatapan yang jauh dari kata sopan. Sengaja dia ingin merendahkan aku manusia aneh ini. Sering kali dan banyak kali aku tidak acuh dengan tatapan sinisnya. Tatapan yang merendahkan diri dan membuatku merasa aneh. Tak ku gubris. Sekali pun. Sampai hari ini.
Manusia sial itu tetap memandangku. Bibirnya mencibir dan suara jahat itu keluar,
“Gadis bodoh bermuka aneh. Apa yang kau lakukan disini?”
Semua bibir terkatup menutup. Hening. Semua pasang mata memandang ku.
“Ke.. na.. pa?”, patahku
“Kalau sudah cacat jangan belagu seperti itu. Kamu aneh dan adanya kamu disini membuat kami terlihat aneh pula. Jangan dekati kami.”
Seluruh dinding dalam hatiku runtuh. Aku tahu aku gadis aneh yang invalid. Tapi bukankah aku tetap punya hak dan kebebasan untuk tetap berada disini? Tertawa dan merasakan hidup sepenuhnya?
Aku berjalan keluar ruangan. Menitikan satu demi satu air mata yang jatuh dengan bantuan gravitasi. Aku tak peduli. Rasanya sudah terlalu lelah untuk menahan jatuhnya air mata. Bahkan untuk mengangkat tangan dan menyeka air mata sudah menjadi sesuatu hal yang terlalu berat untuk kulakukan sendiri.
Duduklah aku di taman. Berdiam dan menangis. Menyesali nasib sebagai anak down syndrome.
Rasanya ingin punya sayap.
Iya. Sayap yang dapat membuatku terbang jauh dari sini. Dari penderitaan durjana dan pedih ini.
Ku ambil benda tajam yang berkilau itu dari kantung celanaku.
Kuhunus benda tajam. Terlalu berat.
Maafkan aku, aku terlalu ingin punya sayap.
Dibalik semburat darah memancar, tumbuhlah sepasang sayap dan aku pergi. Tersenyum.

***


No comments:

Post a Comment

yang berubah dan tetap

banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...