Monday, November 7, 2016

Mata Cokelat

Karena mata cokelat itu menyihirku. Menjadikan realitas hanyalah kebohongan belaka. Aku terpaku. Aku hanya ingin jatuh dan mencinta pada mata cokelat itu.
Aku pertama kali melihatnya ketika salju turun pertama membasahi bumi dengan putih. Tidak seperti hatiku yang biru. Begitu kontras dengan putihnya salju. Aku melihatnya duduk disebuah bangku taman. Membaca sebuah buku yang tidak jelas judulnya. Entah apa yang menarikku. Aneh. Aku menghampirinya. Benar – benar klise.
“Hai.” sapaku.
Dia mengangkat kepalanya . Dengan pipi merah kedinginan dan senyum mengembang dia membalas sapaku.
“Hai juga.”
Saat itulah aku melihat matanya. Terbingkai kacamata tebal namun tetap terlihat jelas matanya. Bukan hitam kelabu melainkan cokelat. Cokelat muda itu mengingatkanku pada  karamel. Begitu manis dan lembut namun di satu sisi tajam dan memabukkan. Mulutku kelu. Aku mengumpat dalam hati. Aku tahu sejak detik itu aku telah jatuh cinta pada sepasang mata berwarna cokelat.
Aku duduk disampingnya. Bertanya siapakah gerangan nama gadis itu.
“Bintang.”
“Bintang? Namamu bintang?”
“Iya. Mengapa?”
Aku hanya tertawa dan memandang langit.
“Itu kamu?”, kataku menunjuk langit.
“Mungkin orangtuaku disana. “
Aku terdiam. Kembali termenung di tengah putihnya salju. Hatiku sudah tidak biru. Mungkin sekarang berwarna cokelat seperti matanya. Menenangkan.
“Namamu siapa?”, tanya Bintang.
“Aku Bulan. Suatu kebetulan yang luar biasa bukan? Namamu dan namaku adalah penghias malam di atas sana.”
Mata cokelatnya menatapku untuk terakhir kalinya dan tersenyum

“Benar juga.” 

No comments:

Post a Comment

yang berubah dan tetap

banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...