Karena mata cokelat itu menyihirku.
Menjadikan realitas hanyalah kebohongan belaka. Aku terpaku. Aku hanya ingin
jatuh dan mencinta pada mata cokelat itu.
Aku
pertama kali melihatnya ketika salju turun pertama membasahi bumi dengan putih.
Tidak seperti hatiku yang biru. Begitu kontras dengan putihnya salju. Aku
melihatnya duduk disebuah bangku taman. Membaca sebuah buku yang tidak jelas
judulnya. Entah apa yang menarikku. Aneh. Aku menghampirinya. Benar – benar
klise.
“Hai.”
sapaku.
Dia
mengangkat kepalanya . Dengan pipi merah kedinginan dan senyum mengembang dia
membalas sapaku.
“Hai
juga.”
Saat
itulah aku melihat matanya. Terbingkai kacamata tebal namun tetap terlihat
jelas matanya. Bukan hitam kelabu melainkan cokelat. Cokelat muda itu
mengingatkanku pada karamel. Begitu
manis dan lembut namun di satu sisi tajam dan memabukkan. Mulutku kelu. Aku
mengumpat dalam hati. Aku tahu sejak detik itu aku telah jatuh cinta pada
sepasang mata berwarna cokelat.
Aku
duduk disampingnya. Bertanya siapakah gerangan nama gadis itu.
“Bintang.”
“Bintang?
Namamu bintang?”
“Iya.
Mengapa?”
Aku
hanya tertawa dan memandang langit.
“Itu
kamu?”, kataku menunjuk langit.
“Mungkin
orangtuaku disana. “
Aku
terdiam. Kembali termenung di tengah putihnya salju. Hatiku sudah tidak biru.
Mungkin sekarang berwarna cokelat seperti matanya. Menenangkan.
“Namamu
siapa?”, tanya Bintang.
“Aku
Bulan. Suatu kebetulan yang luar biasa bukan? Namamu dan namaku adalah penghias
malam di atas sana.”
Mata
cokelatnya menatapku untuk terakhir kalinya dan tersenyum
“Benar
juga.”
No comments:
Post a Comment