Sunday, February 28, 2016

02:47

Ketika hari sudah semakin petang. Aku hanya ingat kamu dan cuma kamu. Yang kuinginkan adalah kamu.
Aku baru saja mematikan hubungan denganmu. Secara seluler. 10 detik yang lalu kamu mengucapkan “selamat pagi, sayang” padaku. Ya. Hari sudah terlalu pagi untuk mengucapkan kata malam. Ketika memori itu kembali menyerang pikiran dan hatiku, lengkungan bak pelangi langsung menghiasai wajahku yang tertutup gelapnya kamar.
Seharian kemarin aku bersama dengannya. Aku ingat bagaimana ia tersenyum padaku ketika mendatangi aku dengan vespa merahnya. Dia tahu aku menunggunya lama. Karena wajahku terlihat sangat jengkel. Tapi, dia tetap tersenyum dan menyuruhku naik di belakang vespanya. Jujur saja, aku kesal, dia selalu terlambat menjemputku. Dan bodohnya lagi, aku tetap menunggunya. Mengedarkan pandanganku tiap detiknya untuk mencari vespa berwarna merah.
Setelah itu, dia menancap gas vespanya. Semilir angin menyapu wajahku. Sudah terasa lebih menyenangkan dengan dinginnya hari dan punggungnya yang terlihat nyaman. Spontan, ku lingkarkan tanganku di perutnya. Dia tidak memprotes karena dia membiarkan aku memeluknya dari belakang. Ah, aku bahagia.
Kemudian ketika sampai, dia memiringkan vespanya agar aku mudah untuk berpijak kembali ke tanah. Perhatian sekali bukan? Dia tahu tubuhku pendek.
Aku masuk kerumahnya dan segera duduk. Hal itu sudah menjadi rutinitasku, masuk lewat pintu, memberi salam, dan segera menaruh diriku di sofa ruang tamunya. Dia mengambilkan aku minum, mencium dahiku.
Lalu dia duduk disampingku. Memperbolehkan aku bermanja – manja dengannya. Dia memelukku dari belakang dan membisikan di telinga kananku.
“Kamu tahu sesuatu?”
“Apa?”
“Aku jatuh cinta padamu.”
Aku tersipu malu. Kemudian aku hanya bisa memeluknya. Erat sekali sampai dia memintaku berhenti karena dirinya kesusahan bernafas. Aku tertawa riang.
Ketika aku tertawa, dia merasa tersinggung. Segera dia mendorong aku. Setelah itu yang aku ingat adalah kecupannya yang sangat hangat di bibirku.
Ingatanku kembali ketika aku mendengar suara jam yang berbunyi tiga kali. Rupanya lamunan ingatanku sudah berlangsung kurang lebih selama 13 menit. Aku memutuskan untuk mengakhiri hari. Aku berjanji ketika bangun nanti aku akan kembali membiarkan pikiranku terbang mengingat kembali dirinya.
Tepat saat aku memasukan tubuhku di dalam selimut. Telpon selulerku berbunyi. Segera ku baca nama di atas layarku. Jariku menekan tombol angkat.
“Aku rindu.”

Bisiknya dari seberang sana.

No comments:

Post a Comment

yang berubah dan tetap

banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...