Ketika hari sudah semakin petang. Aku
hanya ingat kamu dan cuma kamu. Yang kuinginkan adalah kamu.
Aku
baru saja mematikan hubungan denganmu. Secara seluler. 10 detik yang lalu kamu
mengucapkan “selamat pagi, sayang” padaku. Ya. Hari sudah terlalu pagi untuk
mengucapkan kata malam. Ketika memori itu kembali menyerang pikiran dan hatiku,
lengkungan bak pelangi langsung menghiasai wajahku yang tertutup gelapnya
kamar.
Seharian
kemarin aku bersama dengannya. Aku ingat bagaimana ia tersenyum padaku ketika
mendatangi aku dengan vespa merahnya. Dia tahu aku menunggunya lama. Karena
wajahku terlihat sangat jengkel. Tapi, dia tetap tersenyum dan menyuruhku naik
di belakang vespanya. Jujur saja, aku kesal, dia selalu terlambat menjemputku.
Dan bodohnya lagi, aku tetap menunggunya. Mengedarkan pandanganku tiap detiknya
untuk mencari vespa berwarna merah.
Setelah
itu, dia menancap gas vespanya. Semilir angin menyapu wajahku. Sudah terasa
lebih menyenangkan dengan dinginnya hari dan punggungnya yang terlihat nyaman.
Spontan, ku lingkarkan tanganku di perutnya. Dia tidak memprotes karena dia
membiarkan aku memeluknya dari belakang. Ah, aku bahagia.
Kemudian
ketika sampai, dia memiringkan vespanya agar aku mudah untuk berpijak kembali
ke tanah. Perhatian sekali bukan? Dia tahu tubuhku pendek.
Aku
masuk kerumahnya dan segera duduk. Hal itu sudah menjadi rutinitasku, masuk
lewat pintu, memberi salam, dan segera menaruh diriku di sofa ruang tamunya.
Dia mengambilkan aku minum, mencium dahiku.
Lalu
dia duduk disampingku. Memperbolehkan aku bermanja – manja dengannya. Dia
memelukku dari belakang dan membisikan di telinga kananku.
“Kamu
tahu sesuatu?”
“Apa?”
“Aku
jatuh cinta padamu.”
Aku
tersipu malu. Kemudian aku hanya bisa memeluknya. Erat sekali sampai dia
memintaku berhenti karena dirinya kesusahan bernafas. Aku tertawa riang.
Ketika
aku tertawa, dia merasa tersinggung. Segera dia mendorong aku. Setelah itu yang
aku ingat adalah kecupannya yang sangat hangat di bibirku.
Ingatanku
kembali ketika aku mendengar suara jam yang berbunyi tiga kali. Rupanya lamunan
ingatanku sudah berlangsung kurang lebih selama 13 menit. Aku memutuskan untuk
mengakhiri hari. Aku berjanji ketika bangun nanti aku akan kembali membiarkan
pikiranku terbang mengingat kembali dirinya.
Tepat
saat aku memasukan tubuhku di dalam selimut. Telpon selulerku berbunyi. Segera
ku baca nama di atas layarku. Jariku menekan tombol angkat.
“Aku
rindu.”
Bisiknya
dari seberang sana.
No comments:
Post a Comment