Kemungkinan. Rancu dan jahat.
Membuatku sakit. Karena ‘mungkin’ tidak pasti.
Semua
orang selalu berkata “mungkin saja”. Kemungkinan itu sesuatu yang ambigu. Tidak
pasti. Rancu dan aku benci. Bahkan aku benci namaku sendiri karena namaku
adalah sebuah kemungkinan.
Rasa.
Iya
namaku Rasa. Bukankah sebuah kemungkinan adalah takdir yang jahat? Aku hanya
ingin berlari dan berlari sampai lututku tidak dapat menopang beratnya tubuhku.
Mencoba berlari darinya. Tidak mungkin aku kabur, aku selalu gagal. Kemungkinan
merangkul bahuku setiap saat. Aku terluka akan kemungkinan yang sampai suatu
hari berubah menjadi syahdu manis bernama cinta.
Rasa, aku mencinta. Aku merindu. Aku
ingin kamu dan hanya kamu. Mungkinkah aku gila jika menaruh hati pada rasa?
Sepertinya begitu.
Rasanya
kemungkinan akan adanya gravitasi sudah tidak berlaku lagi di tempat aku
berdiri. Aku pasti akan gila. Tidak. Aku sudah gila. Dengan segenggam harap
mendatangi kemungkinanku. Detik itu aku tersihir dan melupakan semua
kemungkinan yang mungkin akan terjadi.
“Rasa?
Aku pikir kamu tidak akan datang.”
“Kemungkinan
itu tetap ada. Selalu ada bahkan di saat terkecil sekalipun. Siapa kamu?”
“Aku
adalah seorang yang akan merubah kemungkinanmu menjadi tidak klise.”
Rasa
menatap wajah laki – laki itu. Ketulusan tergambar jelas di raut wajahnya.
Namun bagaimana dengan matanya? Dia menebak adanya ketakutan yang terpancar di
mata gelapnya. Rasa terdiam larut dalam angannya yang mulai khawatir. Sampai
suara laki – laki itu menghentakkannya kembali ke bumi dan membuat rasa di
dadanya menghangat.
“Aku
mencintaimu dengan segala kemungkinan yang ada.”
Setitik
air mata jatuh di pipi Rasa. Laki – laki dihadapannya adalah kemungkinan yang
tidak akan pernah dia benci sampai kapanpun.
“Kamu
mau jadi kemungkinanku, Rasa?”
“Aku
mau, Aras. Aku mau.”
Dengan
setengah berlari aku memeluknya. Memeluk kemungkinanku.
No comments:
Post a Comment