Sunday, February 14, 2016

kemungkinan klise

Kemungkinan. Rancu dan jahat. Membuatku sakit. Karena ‘mungkin’ tidak pasti.
Semua orang selalu berkata “mungkin saja”. Kemungkinan itu sesuatu yang ambigu. Tidak pasti. Rancu dan aku benci. Bahkan aku benci namaku sendiri karena namaku adalah sebuah kemungkinan.
Rasa.
Iya namaku Rasa. Bukankah sebuah kemungkinan adalah takdir yang jahat? Aku hanya ingin berlari dan berlari sampai lututku tidak dapat menopang beratnya tubuhku. Mencoba berlari darinya. Tidak mungkin aku kabur, aku selalu gagal. Kemungkinan merangkul bahuku setiap saat. Aku terluka akan kemungkinan yang sampai suatu hari berubah menjadi syahdu manis bernama cinta.
Rasa, aku mencinta. Aku merindu. Aku ingin kamu dan hanya kamu. Mungkinkah aku gila jika menaruh hati pada rasa? Sepertinya begitu.
Rasanya kemungkinan akan adanya gravitasi sudah tidak berlaku lagi di tempat aku berdiri. Aku pasti akan gila. Tidak. Aku sudah gila. Dengan segenggam harap mendatangi kemungkinanku. Detik itu aku tersihir dan melupakan semua kemungkinan yang  mungkin akan terjadi.
“Rasa? Aku pikir kamu tidak akan datang.”
“Kemungkinan itu tetap ada. Selalu ada bahkan di saat terkecil sekalipun. Siapa kamu?”
“Aku adalah seorang yang akan merubah kemungkinanmu menjadi tidak klise.”
Rasa menatap wajah laki – laki itu. Ketulusan tergambar jelas di raut wajahnya. Namun bagaimana dengan matanya? Dia menebak adanya ketakutan yang terpancar di mata gelapnya. Rasa terdiam larut dalam angannya yang mulai khawatir. Sampai suara laki – laki itu menghentakkannya kembali ke bumi dan membuat rasa di dadanya menghangat.
“Aku mencintaimu dengan segala kemungkinan yang ada.”
Setitik air mata jatuh di pipi Rasa. Laki – laki dihadapannya adalah kemungkinan yang tidak akan pernah dia benci sampai kapanpun.
“Kamu mau jadi kemungkinanku, Rasa?”
“Aku mau, Aras. Aku mau.”
Dengan setengah berlari aku memeluknya. Memeluk kemungkinanku.

***

No comments:

Post a Comment

yang berubah dan tetap

banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...