melangkahkan kaki kembali ke tempat ini adalah sebuah kemuakkan. Penat. Tidak aman. Dan menyedihkan.
Ku hampiri dia. Salah apa aku sampai dia membentakku.
Entah karena hati atau sudah waktunya, mataku berlinang. setetes dua tetes berjatuhan di atas kertas yang ku tulis.
dia merampas hak dan kebebasanku. Dia pikir dia siapa?
Berlagak seperti jagoan yang tak punya adat.
Telingaku memerah menahan panas di ulu hati.
Dia menawarkan aku sebuah pilihan.
Sampai mati pun tak sudi.
Memangnya kamu siapa? Pikiranku kembali melayang menembus otak dan jantung.
Degupan jantung membalas letupanku.
"kamu juga tidak tahu siapa dirimu, kan?"
No comments:
Post a Comment