dia manis sekali. Memakai rompi quirky dengan bando merah untuk menahan poninya. Celana jeans hitam dan sepatu vans hitamnya membuatnya terlihat lebih tampan. Tapi yang pasti. Dia milikku.
Theater kecil - Taman Ismail Marzuki menjadi saksi kelucuan kami. Kursi penonton bagian kanan belakang menjadi tempat kami berdiri memainkan kaki dan bersenda gurau. Pelukan tubuh hangatnya dan ciuman di keningku menjadi bukti otentik romansa kami.
Dinding theater yang kelam dan kursi kursi merah menjadi saksi bisu cinta kami. Sementara penonton lain hanyalah figuran dalam dunia kami yang sempurna untukku.
bahkan berdiri selama apapun asalkan dengannya aku tidak letih. Kakiku sanggup menopang lelahnya tubuhku hanya untuk bersamanya.
Sayang waktu harus terus berjalan tanpa menggubris isakan kecil dari lubuk hatiku. dia harus pergi. Sedikit jauh tapi tidak berbeda pulau. Katanya dia akan pergi sebentar dan dia memintaku bersabar sedikit.
"Ini hanya 3 hari. Bukan 3 minggu. 3 bulan atau bahkan 3 tahun."
Aku menangis kecil.
"Aku akan kembali. Aku serius"
Kepalaku mengangguk perlahan. Tidak yakin dengan diri sendiri.
Dia memeluk tubuhku lagi.
acara berakhir dan aku melompat padanya. Berbangga hati memilkinya.
Kemudian dia menggengam tanganku dan berjalan seiring dengan tangisku dalam hati yang semakin keras. Dia masuk ke dalam mobilnya. Air mataku kutahan. Dia meminjamkan pik gitarnya.
"Ini. Pik yang aku pakai tadi. Simpan. Aku akan mengambilnya kembali"
Dia menaruh pik itu di tanganku. Kugenggam erat.
Dia pergi perlahan
Aku berbalik dan menangis.
No comments:
Post a Comment