Thursday, March 3, 2016

sepi (adaptasi dari puisi 'aku ingin ramiku: kamu)

Apa yang paling indah dibandingkan dengan sepi? Bukankah sepi adalah jalan keluar terbaik? Mengapa harus benci sepi? Kamu akan menemukan hal – hal indah di sepimu itu.
Ketika aku berdiri disini, semua terasa baik – baik saja. Aku senang sepi ini. Tidak ada yang lebih indah dibandingkan sepi. Sepi itu menyenangkan. Tidak ada yang salah dari sepi. Buktinya ketika aku diam dan menyepi dunia menjadi lebih normal. Tidak absurd seperti ketika semua orang berteriak dan membuat kebisingan. Aku tidak suka berisik. Tak akan ada hal indah yang muncul ketika begitu banyak bunyi melayang di udara. Aku benci. Sebenarnya benci itu berubah seiring dengan pertemuanku dengannya.
Dia cantik. Tentu saja. Kulitnya putih dan bibirnya semerah dara. Dia cantik. Sungguh. Seraffine. Nama yang sempurna untuk seorang jelita seperti dia.
“Kenapa kamu benci ramai?”, tanyanya suatu hari.
“Karena sepi menyenangkan tentu saja.”
“Apa yang menyenangkan dari diam? Tentu saja tak ada.”
“Ada. Kalau kamu mau membuka hati, mata, juga telingamu.”
“Mengapa harus diam ketika kita bisa memilih untuk untuk tidak diam?”
Aku marah.
“Jangan marah.”, katanya lembut
Semua yang aku tahu adalah sepi. Sepi itu sudah menjadi penunjuk jalanku sejak dulu. Sepi itu tak pernah salah. Aku akan baik- baik saja bersama sepiku. Tidak ada yang lebih kubutuhkan dibandingkan sepiku. Mengapa kau gadis membiarkan hatiku terombang – ambing seperti ini? Mengapa kau yakinkan aku bahwa yang benar adalah ramai? Aku tahu kamu yang salah, aku yang benar. Berhenti. Tolong.
“Apa yang kau suka dari sepimu?”
“Semuanya.”
“Bagaimana denganku?”
“Aku mencintaimu.”, sungguhku.
Aku benci ramai. Aku tidak pernah suka ramai. Kebisingan membuat otakku serasa mau pecah. Apa yang salah denganku. Jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam sebenarnya aku tahu bahwa aku bukan benci ramai. Aku hanya tidak mau mengakui keberadaanya. Aku hanya ingin berhenti menjadi sepi. Selama ini aku membiarkan sepi itu hadir. Ada dan bereksistensi di dalam diriku. Tidak ada yang salah dari keramaian. Yang salah bukan ramai tapi sepi. Sepi yang harus disalahkan.
Bukan.
Aku yang membiarkan sepi itu. Aku yang salah.
Kemudian gadis manis bibir merah dara itu tersenyum. Membuka mulutnya dan berkata,
“Aku akan jadi ramaimu.”


***

No comments:

Post a Comment

yang berubah dan tetap

banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...