Apa yang paling indah dibandingkan
dengan sepi? Bukankah sepi adalah jalan keluar terbaik? Mengapa harus benci
sepi? Kamu akan menemukan hal – hal indah di sepimu itu.
Ketika
aku berdiri disini, semua terasa baik – baik saja. Aku senang sepi ini. Tidak
ada yang lebih indah dibandingkan sepi. Sepi itu menyenangkan. Tidak ada yang
salah dari sepi. Buktinya ketika aku diam dan menyepi dunia menjadi lebih
normal. Tidak absurd seperti ketika semua orang berteriak dan membuat
kebisingan. Aku tidak suka berisik. Tak akan ada hal indah yang muncul ketika
begitu banyak bunyi melayang di udara. Aku benci. Sebenarnya benci itu berubah
seiring dengan pertemuanku dengannya.
Dia
cantik. Tentu saja. Kulitnya putih dan bibirnya semerah dara. Dia cantik.
Sungguh. Seraffine. Nama yang sempurna untuk seorang jelita seperti dia.
“Kenapa
kamu benci ramai?”, tanyanya suatu hari.
“Karena
sepi menyenangkan tentu saja.”
“Apa
yang menyenangkan dari diam? Tentu saja tak ada.”
“Ada.
Kalau kamu mau membuka hati, mata, juga telingamu.”
“Mengapa
harus diam ketika kita bisa memilih untuk untuk tidak diam?”
Aku
marah.
“Jangan
marah.”, katanya lembut
Semua
yang aku tahu adalah sepi. Sepi itu sudah menjadi penunjuk jalanku sejak dulu.
Sepi itu tak pernah salah. Aku akan baik- baik saja bersama sepiku. Tidak ada
yang lebih kubutuhkan dibandingkan sepiku. Mengapa kau gadis membiarkan hatiku
terombang – ambing seperti ini? Mengapa kau yakinkan aku bahwa yang benar
adalah ramai? Aku tahu kamu yang salah, aku yang benar. Berhenti. Tolong.
“Apa
yang kau suka dari sepimu?”
“Semuanya.”
“Bagaimana
denganku?”
“Aku
mencintaimu.”, sungguhku.
Aku
benci ramai. Aku tidak pernah suka ramai. Kebisingan membuat otakku serasa mau
pecah. Apa yang salah denganku. Jauh di dalam lubuk hatiku yang paling dalam
sebenarnya aku tahu bahwa aku bukan benci ramai. Aku hanya tidak mau mengakui
keberadaanya. Aku hanya ingin berhenti menjadi sepi. Selama ini aku membiarkan
sepi itu hadir. Ada dan bereksistensi di dalam diriku. Tidak ada yang salah
dari keramaian. Yang salah bukan ramai tapi sepi. Sepi yang harus disalahkan.
Bukan.
Aku
yang membiarkan sepi itu. Aku yang salah.
Kemudian
gadis manis bibir merah dara itu tersenyum. Membuka mulutnya dan berkata,
“Aku
akan jadi ramaimu.”
***
No comments:
Post a Comment