Thursday, March 3, 2016

menunggu (cerita pendek)

Karena kadang kita harus memutuskan untuk berhenti menunggu.
Kenapa waktu berjalan begitu lambat? Mungkin untuk keseratus kalinya Ariana melihat jam yang terlingkar di pergelangan tangan kirinya. Di tempat yang dia duduki sekarang adalah tempat dimana berjuta – juta manusia datang dan pergi. Bertemu dan berpisah. Menangis dan tertawa.
Ia sudah melihat ratusan orang hilir mudik depanku. Tapi tidak ada dia. Dia yang selama ini aku tunggu. Bahkan batang hidungnya pun tidak muncul.
Laki – laki itu berjanji akan menemuinya. Dia bersumpah. Ariana mengira janji itu dapat tercapai untuk terakhir kalinya. Namun realitas mengatakan lain.
Kembali matanya berputar ke arah jam tangan hitamnya. Rasanya jam itu dapat meledak dalam waktu dekat karena dipandangi  setiap detik. Air mata yang ditahannya selama 2 jam ini akhirnya menetes di jam kesayangannya itu.
Untuk pertama kalinya, Ariana merasa waktu sedang mengejeknya. Iya benar. Waktu sedang bermain dengan dirinya. Saat ini waktu pasti tertawa puas melihat Ariana menangis.
Segera dia hapuskan pikiran itu sambil menghapus sisa air mata dengan punggung tangan. Kemudian Ariana mengambil bawaan dan mengangkat diri dari posisi duduk. Kertas bersisikin jadwal penerbangan diremukkannya. Kemudian kertas itu ia taruh di tempat duduk dimana seharusnya menjadi tempat dirinya dan laki – laki itu akan bertemu.
Perasaan lega sekaligus bangga merasuk kehati Ariana. Waktu berhenti tertawa. Dia kembali berjalan. Ia arahkan pandangannya untuk terakhir kalinya ke jam yang sedari tadi dia pelototi.
“Ternyata benar, waktu bergerak kembali.” Katanya lebih pada diri sendiri.
Lalu Ariana berjalan bersama jalannya waktu, berhenti menunggu, dan mencari waktu lain yang berjalan.

***


No comments:

Post a Comment

yang berubah dan tetap

banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...