Karena kadang kita harus memutuskan
untuk berhenti menunggu.
Kenapa
waktu berjalan begitu lambat? Mungkin untuk keseratus kalinya Ariana melihat
jam yang terlingkar di pergelangan tangan kirinya. Di tempat yang dia duduki
sekarang adalah tempat dimana berjuta – juta manusia datang dan pergi. Bertemu
dan berpisah. Menangis dan tertawa.
Ia
sudah melihat ratusan orang hilir mudik depanku. Tapi tidak ada dia. Dia yang selama ini aku tunggu.
Bahkan batang hidungnya pun tidak muncul.
Laki
– laki itu berjanji akan menemuinya. Dia bersumpah. Ariana mengira janji itu
dapat tercapai untuk terakhir kalinya. Namun realitas mengatakan lain.
Kembali
matanya berputar ke arah jam tangan hitamnya. Rasanya jam itu dapat meledak
dalam waktu dekat karena dipandangi
setiap detik. Air mata yang ditahannya selama 2 jam ini akhirnya menetes
di jam kesayangannya itu.
Untuk
pertama kalinya, Ariana merasa waktu sedang mengejeknya. Iya benar. Waktu
sedang bermain dengan dirinya. Saat ini waktu pasti tertawa puas melihat Ariana
menangis.
Segera
dia hapuskan pikiran itu sambil menghapus sisa air mata dengan punggung tangan.
Kemudian Ariana mengambil bawaan dan mengangkat diri dari posisi duduk. Kertas bersisikin
jadwal penerbangan diremukkannya. Kemudian kertas itu ia taruh di tempat duduk
dimana seharusnya menjadi tempat dirinya dan laki – laki itu akan bertemu.
Perasaan
lega sekaligus bangga merasuk kehati Ariana. Waktu berhenti tertawa. Dia
kembali berjalan. Ia arahkan pandangannya untuk terakhir kalinya ke jam yang
sedari tadi dia pelototi.
“Ternyata
benar, waktu bergerak kembali.” Katanya lebih pada diri sendiri.
Lalu
Ariana berjalan bersama jalannya waktu, berhenti menunggu, dan mencari waktu
lain yang berjalan.
***
No comments:
Post a Comment