Monday, March 21, 2016

(special) surealisme idiosinkritis

aku berdiri disini, mempertanyakan semesta. dua puluh tahun dalam hidup dan aku merasakan hal 'itu'. ketika langit dan bumi seolah - olah menenekanku di satu titik yang menyesakkan. sampai benar - benar sesak rasanya dada ini. di saat air mata sudah tidak lagi menjadi air melainkan darah. aliran menetes perlahan dan sesuai ritmenya bak sungai di musim penghujan, tak berhenti  ber
sinkron dengan apa yang seharusnya ada.

aku mencari disini. segala pertanyaan yang berikhtiar menguak jawaban. barangkali itu pertanyaan yang sesungguhnya atau pertanyaan yang berselimut menjadi sebuah pernyataan. entahlah. keduanya diperbolehkan. asalkan bertujuan untuk menjadi hasil pencarianku. aku mengembara dengan kedua langkah kaki kecilku, mencari tanya dan jawabannya. lelah sekali.

aku bersedih disini. segalanya menjadi sangat hitam dan kelam. rasanya kalau - kalau memang cahaya itu ada, kemungkinan besar hanya kebohongan belaka yang tidak rasional serta tidak mampu dipertanyakan akal. jadi aku menunduk di atas tanah, meratapi nasibku. membiarkan tetesan air mata jatuh untuk menyenangkan bumi yang sembari tertawa menang menangkup air mataku. aku biarkan.

aku hancur disini. kepingan demi kepingan diriku mulai memecah menjadi butiran butiran kecil kecil. tak sanggup lagi menggapai sampai mulai terangkat. cepat dan ringan melayang menjauhi gravitasi bumi, langit menangkapku. memecahkan pecahan kecilku menjadi pecahan yang lebih kecil lagi. anaknya, si angin membantu ayahnya menerbangkan intisari diriku. langit tertawa terbahak bahak. aku biarkan.

jadi, apa aku ini sekarang?
.
.
.
ya... bukan apa apa. kamu bukan apa dan siapa. kamu hanya kamu tak ada.

No comments:

Post a Comment

yang berubah dan tetap

banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...