Jemariku menggigil terkena realita.
Aku sendiri. Mencaci hati. Sampai semilir rasa hangat meraih tanganku. Ketika
jemarimu mencari tanganku. Ku buka dan rasakan kehangatan menjalar sampai ke
hatiku.
Aku
mengenalmu kala itu. Ketika untuk pertama kalinya kamu tersenyum. Aku mengutuk
diriku dalam diri. Mengapa lagi – lagi aku luluh oleh senyumanmu. Kala itu, kamu
masih menjadi sesosok yang hanya dapat kupandangi sebatas punggungnya saja.
Yang aku bisa hanyalah berdiri di pojok yang terpojok, mencari lewat mataku,
sekedar untuk dapat menatapmu. Dan kala itu, kita bukan siapa atau apa. Tidak
ada ikatan. Tidak ada apapun. Aku adalah aku dan kamu adalah kamu.
Waktu
itu, aku akhirnya memberanikan diri mengajakmu berkenalan. Berat sekali rasanya
membuka mulutku untuk mengucapkan sebuah kata sederhana berbentuk ‘hai’.
Sepertinya kamu tahu aku salah tingkah karena kamu tertawa sembari melihat
pipiku tersemu merah. Entah apa yang merasukiku hari itu. Aku berkenalan denganmu.
Benar – benar berkenalan tidak lagi menatapnya dari jauh.
Ternyata
ketakutanku selama ini terbukti benar – benar bodoh. Kamu begitu baik dan
perhatian padaku. Aku semakin jatuh hati padamu. Hari berganti hari. Aku
semakin mengenal dirimu dan membuatku semakin jatuh lebih dalam. Senyummu
adalah jawaban yang selama ini aku cari.
Suatu
hari di bulan Mei, aku menyadari suatu hal. Hal paling sederhana sekalipun
menjadi sesuatu yang mengaggumkan ketika manusia jatuh cinta. Hari itu, kita
berdua sedang berjalan. Tiba – tiba aku merasakan rasa yang hangat di tangan
kananku. Ketika kulihat, ternyata tanganmu sedang menggenggam jemariku. Hangat.
Jatungku melompat – lompat. Ketika kamu menggenggam jemariku hari itu, aku tahu
duniaku kini menjadi utuh.
Hal
mengejutkan terjadi lagi di bulan September. Saat itu, aku sedang membisikan
sesuatu di telingamu. Kamu tertawa mendengar candaku. Lalu kamu menggenggam
tanganku. Ketika sampai di muka rumahku. Aku mengucapkan salam jumpa. Sebelum
aku sempat berbalik ke arah pintu rumahku, kamu menarik lenganku dan memelukku
cepat. Pelukan yang erat itu menyadarkanku satu hal. Pelukanmu adalah tempat
paling nyaman. Sejak saat itu aku tahu, aku punya tempat untuk pulang.
Kala,
waktu, hari, dan saat itu. Ketika aku melihat senyumanmu, ketika aku mengajakmu
berkenalan, ketika aku merasakan hangatnya jemari tanganmu, dan ketika kamu
memelukku di muka rumahku, aku mengerti bahwa kamulah jawaban untuk membuat
duniaku utuh ketika aku butuh tempat untuk pulang.
***
No comments:
Post a Comment