Thursday, March 3, 2016

ketika jemari dan hati bertautan (adaptasi dari puisi 'ketika')

Jemariku menggigil terkena realita. Aku sendiri. Mencaci hati. Sampai semilir rasa hangat meraih tanganku. Ketika jemarimu mencari tanganku. Ku buka dan rasakan kehangatan menjalar sampai ke hatiku.
Aku mengenalmu kala itu. Ketika untuk pertama kalinya kamu tersenyum. Aku mengutuk diriku dalam diri. Mengapa lagi – lagi aku luluh oleh senyumanmu. Kala itu, kamu masih menjadi sesosok yang hanya dapat kupandangi sebatas punggungnya saja. Yang aku bisa hanyalah berdiri di pojok yang terpojok, mencari lewat mataku, sekedar untuk dapat menatapmu. Dan kala itu, kita bukan siapa atau apa. Tidak ada ikatan. Tidak ada apapun. Aku adalah aku dan kamu adalah kamu.
Waktu itu, aku akhirnya memberanikan diri mengajakmu berkenalan. Berat sekali rasanya membuka mulutku untuk mengucapkan sebuah kata sederhana berbentuk ‘hai’. Sepertinya kamu tahu aku salah tingkah karena kamu tertawa sembari melihat pipiku tersemu merah. Entah apa yang merasukiku hari itu. Aku berkenalan denganmu. Benar – benar berkenalan tidak lagi menatapnya dari jauh.
Ternyata ketakutanku selama ini terbukti benar – benar bodoh. Kamu begitu baik dan perhatian padaku. Aku semakin jatuh hati padamu. Hari berganti hari. Aku semakin mengenal dirimu dan membuatku semakin jatuh lebih dalam. Senyummu adalah jawaban yang selama ini aku cari.
Suatu hari di bulan Mei, aku menyadari suatu hal. Hal paling sederhana sekalipun menjadi sesuatu yang mengaggumkan ketika manusia jatuh cinta. Hari itu, kita berdua sedang berjalan. Tiba – tiba aku merasakan rasa yang hangat di tangan kananku. Ketika kulihat, ternyata tanganmu sedang menggenggam jemariku. Hangat. Jatungku melompat – lompat. Ketika kamu menggenggam jemariku hari itu, aku tahu duniaku kini menjadi utuh.
Hal mengejutkan terjadi lagi di bulan September. Saat itu, aku sedang membisikan sesuatu di telingamu. Kamu tertawa mendengar candaku. Lalu kamu menggenggam tanganku. Ketika sampai di muka rumahku. Aku mengucapkan salam jumpa. Sebelum aku sempat berbalik ke arah pintu rumahku, kamu menarik lenganku dan memelukku cepat. Pelukan yang erat itu menyadarkanku satu hal. Pelukanmu adalah tempat paling nyaman. Sejak saat itu aku tahu, aku punya tempat untuk pulang.
Kala, waktu, hari, dan saat itu. Ketika aku melihat senyumanmu, ketika aku mengajakmu berkenalan, ketika aku merasakan hangatnya jemari tanganmu, dan ketika kamu memelukku di muka rumahku, aku mengerti bahwa kamulah jawaban untuk membuat duniaku utuh ketika aku butuh tempat untuk pulang.


***

No comments:

Post a Comment

yang berubah dan tetap

banyak yang berubah setahun terakhir. kini rambutku kembali pendek di atas bahu dengan bekas luka operasi sepanjang enam senti di depan tula...